Sunday, March 27, 2011

Masquerade Ball..

Lagi terobsesi sama yang namanya masquerade ball,
Then I thought of this very simple thought :)

Wanita bertopeng

Gaun putih tanpa lengan menjuntai hingga lututnya..
Modelnya sederhana, tidak berlebihan, namun tidak kurang..
Aku punya firasat, ini menggambarkan kepribadiannya.
Gaun itu serasi dengan sepatu pesta biru yang melindungi langkah kakinya..
Rambut hitam panjangnya bak ombak di laut, bergelombang dengan indah, terurai di punggungnya..

Tapi yang membuat aku terpesona, bukan semuanya itu..
Tapi senyum polosnya yang penuh arti..
Tidak dibuat-buat, tulus menunjukkan kegembirannya..
Dan binar matanya, menunjukkan kerendahan hati dan keanggunan..

Entah bagaimana aku bisa tahu semuanya ini,
Padahal wajahnya tertutup dalam topeng sayap kupu-kupu biru yang menunjukkan dunia yang begitu keras dan tajam..
Topeng yang menunjukkan tipuan dalam ukiran-ukiran di permukaannya..

Andai aku bisa membuka topeng gadis istimewa yang berdansa denganku sekarang ini, dan tahu siapa dia sebenarnya...
Sayang aku tidak bisa melakukan hal itu,
Karena aku ada dalam pesta topeng..

Thursday, March 24, 2011

Kakak dan Bintang

okeh,
cerita iseng yang super singkat..
semoga suka yah..

cerita tentang Kakak-Adik ^^


Kakak dan Bintang
Mama masuk ke kamar yang didominasi warna ungu itu. Melihat putri bungsunya bisa terbaring lemah, Mama pasrah. Mama sudah membujuk Nessa untuk makan, tapi bujukan itu tidak didengarnya. “Mbok, jagain Nessa dulu ya.” Kata Mama pada simbok yang sudah mengabdi pada keluarga Thomas belasan tahun. Simbok mengiyakan.
2 hari sejak kematian Nicho, Vanessa Thomas cuma bisa terbaring di tempat tidur. Dia sangat shock mendengar kabar kepergian sahabatnya itu. Sahabat yang sudah dikenalnya sejak kecil. Bukan hanya sekedar sahabat, hamper seluruh teman-teman sekampusnya tahu, kalau mereka berdua menyimpan rasa satu dengan yang lain. Tapi bukan itu yang membuat gadis mahasiswi itu sedih, melainkan sahabatnyua yang sudah berjanji untuk selalu ada di sampingnya, pergi untuk selamanya, meninggalkannya sendiri dengan semua kenangan yang ada.
Malam minggu kemarin,Nicho mengantar Nessa pulang. Mereka baru saja bersenang-senang, bercanda, dan menghabiskan malam dengan asyik. “Makasi ya, Cho. Sekarang kamu langsung pulang aja, udah malem banget nih.” “Ok deh, kamu juga langsung tidur yah, Nes. See you!” seru Nicho dari balik jendela mobil. Ternyata itulah kali pertama dan terakhir mereka malem-mingguan bareng.
Beberapa ratus meter dari rumah Nessa, ada sebuah truk yang dikendarai supir yang mabuk berat. Alhasil, mobil Nicho pun ditabraknya. Namun karena mabuk, supir itu tak sadar dan terus saja menjalankan truknya. Tubuh Nicho terhimpit dan iapun pingsan. Dalam perjalanan ke rumah sakit, nyawanya tak tertolong, dan Nicho menghembuskan nafas yang terakhir.
Di hari pemakaman Nicho, Nessa nggak tampak di mana-mana. Ia masih terlalu sedih untuk datang, bertemu keluarga Nicho dan yang paling utama, makamnya. Ia terlalu shock, terlalu pedih mengingat malam itu mereka baru saja bersenang-senang.
Seminggu kemudian,
Nessa sudah lebih baik. Nessa sudah mau makan, sudah kuliah lagi, bahkan mengikuti ujian semester. Nilai-nilainya tertinggi dari teman-temannya. Tapi Nessa tak lagi ceria dan tersenyum. Pandangan Nessa yang kosong, suka melamun, dan selalu mengurung diri di kamar membuat Mama dan Papa semakin bingung. Apa yang harus mereka lakukan? Ah, ya! Mereka lupa ada 1 cara yang bisa ditempuh dan mengembalikan senyum tulus dan ceria Nessa.
Ferdino Thomas memeluk Mama dan Papa. “Maafkan Papa dan Mama harus mengganggu kuliahmu di Jakarta, Dino. Tapi ini penting. Mama dan Papa takut Nessa akan—“ kata-kata Papa terputus. “Ma, Pa, Dino tahu. Dino akan berusaha biar Nessa bisa seperti dulu lagi. Mama dan Papa tenang aja. “ “Nessa mana, Ma?” Tanya Dino pada Mama. “Lagi kuliah. Lebih baik kamu istirahat dulu, dan makan dulu. Itu simbok sudah masak makanan kesukaan kamu.” Dino menurut.
Nessa pulang. Seperti biasa wajahnya datar tanpa ekspresi. “Hai Nes,” sapa Dino sambil tersenyum dengan gaya cool nya yang membuat dia disukai mahasiswi se-universitas tempat dia kuliah. “Kakak!” Seru Nessa sambil tersenyum kecil. Mama dan Papa mengintip dari kamarnya, terhibur bahwa putri mereka setidaknya sudah tersenyum. “Kak Dino kapan ke sini?” Tanya Nessa sambil memeluk erat kakaknya yang satu-satunya itu. “Tadi pagi. Oh ya, udah sore nih. Sekarang kamu mandi dulu, trus kita makan bareng. Oke?” Nessa mengangguk cepat, melepaskan pelukan dan berjalan ke kamarnya.
Malam hari, suasana di rumah keluarga Thomas sepi, nggak terdengar suara berisik apapun. Papa dan Mama sudah tertidur. Hal itu nggak mengurungkan niat Ferdino untuk mengecek kamar adiknya.
Ternyata dugaan Dino benar, walaupun sudah sepi, Vanessa belum juga tertidur. Bahkan Nessa sedang menangis pelan!
“Nessa kenapa?” Tanya Dino pelan sambil menghapus air mata di pipi Nessa. Vanessa yang baru menyadari keberadaan kakaknya langsung terduduk. “Mmm, nggak kok, Kak. Kak dino kok belum tidur?” “Nes, kakak mo tanya, kamu.. Mmm.. keinget Nicho terus?” Mendengar nama Nicho, Nessa langsung menangis lebih keras. Ferdino langsung memeluk Vanessa. Yep, Vanessa masih shock berat.
“Nes, kamu boleh nangis semaleman di pelukan kakak. Bilang aja apapun yang mau kamu bilang. Kakak bakal dengerin.”
“Kak, Nicho nggak pergi kan? Nicho masih ada kan, kak? Kak Dino, Nessa sayang sama Nicho, kenapa dia harus pergi? Kak Dino tau nggak, sore itu, Nicho janji sama Vanessa. Nicho janji kalau dia nggak akan ninggalin Nessa. Kak, rasanya dada Nessa sakit, kosong, hati Nessa hilang.” Cuma itu yang bisa Nessa ucapkan, sambil terus menangis sesegukan dan memegang dada, merasakan sebuah kekosongan yang luar biasa.
“Vanessa, kakak pernah denger cerita. Nessa dengerin yah!” Nessapun mengangguk.
“Konon waktu kita lahir, kita mengambil 1 bintang di langit, untuk menemani kita selama hidup. Tapi bintang itu nggak bisa selamanya di bumi. Nanti pada saatnya bintang itu akan kembali ke langit. Nah pada saat itu kita meninggalkan dunia ini. Sekarang tugas kita adalah membiarkan bintang kita menyala dan orang-orang bisa lihat. Kalo menurut Nessa, bintang Nicho udah bersinar terang belum di dunia ini?” Nessa berpikir sebentar, lalu mengangguk pelan. “Berarti tugas Nicho di dunia mungkin sudah selesai, dan bintang Nicho harus segera pergi. Semua ada saatnya, Nes.” Lanjut Ferdino sambil terus mengusap kepala adiknya. Vanessa jadi lebih tenang. Tapi dia terus menangis. Sampai akhirnya, Vanessa kelelahan dan tertidur dalam pelukan Dino. Dino lalu meletakkan kepala Nessa di bantalnya, dan beranjak dari ranjang Nessa.
Tapi Dino takut kalau-kalau Nessa terbangun tengah malam nanti. Akhirnya ia tidur di sofa di kamar Nessa malam itu. Sekali lagi, dugaan Dino benar. Walaupun cukup lama nggak ketemu karena kuliah di kota yang berbeda, di sangat mengenal sifat adiknya itu. Nessa terbangun dengan terengah-engah, sepertinya ia habis mimpi buruk. Nessa hampir menangis lagi, teringat Nicho yang mampir di mimpinya, tapi ia menoleh ke sofa dan melihat kakaknya. Nessa jadi tenang dan sadar, dia nggak perlu menangisi Nicho lagi. Tugasnya udah selesai di dunia. Nicho pasti lebih baik di alam sana. Vanessa pun segera terlelap lagi.
Besok paginya, Nessa bangun lebih pagi daripada Dino. Tapi tetap saja, hari sudah siang. “Kakak! Bangun dong! Udah siang nih.” Seru Nessa sambil mengguncang tubuh Dino. “Iya, iya. Nih kakak bangun.” Gerutu Dino yang masih ngantuk.
“Kak, nanti kakak temenin Nessa yah! Nessa mau pergi tapi nggak mau sendirian.”
Dino bergumam mengiyakan.
Ternyata, Vanessa mengajak Ferdino ke makam Nicho. Sekarang dia sudah siap melihatnya. Dino lega dan senang melihat hal ini. Mendengar dari Mama dan Papa kalau Vanessa shock dan nggak ceria membuatnya seperti ditusuk-tusuk dan sedih.
Dino sengaja nggak menemani Nessa sampai ke makam Nicho, dia hanya mengantar dan menunggu di mobil. Dino rasa adiknya butuh waktu sendiri, kalau tidak berdua dengan Nicho.
Setelah beberapa saat, Vanessa kembali ke mobil dengan mata agak sembab namun tersenyum. “Makasih ya Kak, kakak udah nemenin Nessa. Makasih kakak udah menyadarkan Nessa..”
“Nes, nggak apa-apa. Yang penting sekarang kamu udah ceria lagi. Jangan kaya kemaren, bikin Papa dan Mama bingung. Kak Dino sayang banget sama Nessa.” Kata Dino sambil menggengggam tangan Nessa yang agak basah karena mengusap air mata. “Iya kak, Nessa janji! Nessa juga sayang banget sama kak Dino.”
Beberapa hari kemudian Dino kembali lagi ke Jakarta. Sedang Nessa yang Ceria kembali ke aktivitas normalnya.
Yang berubah saat itu adalah, kalau ada temannya yang kehilangan kerabat, Nessa akan selalu menceritakan cerita bintang dari Dino. Padahal sebenarnya cerita itu nggak pernah ada. Cerita itu Cuma dibuat-buat oleh Dino, untuk bilang ke Nessa kalau semua ada waktunya, di dunia nggak ada yang abadi.

Thursday, March 3, 2011

Pangeran Mimpi jilid 3

Dan ada satu lagi...
^^


Pangeran Mimpi jilid 3
Udara yang dingin, ditambah hujan rintik-rintik membuat Monika memilih untuk menikmati malamnya di luar kamar Villa, ditemani secangkir teh manis panas, meninggalkan sebentar teman-temannya yang asik bersenda gurau.
Rumah orangtua Monika sebenarnya berada di Semarang,
Namun hari ini sampai beberapa hari kedepan, teman-teman SMP dan SMAnya Monika akan menginap di Bandungan, sekedar untuk melepas kangen saja, mumpung kebanyakan mereka sedang libur.
Belum semua kawan datang, masih ada yang akan menyusul besok, dan malam ini.
Hmmm..
Teman-teman Monika memang tidak terlupakan.
Mereka sangat kompak!
Selama beberapa tahun bersama, tentulah persahabatan mereka terjalin kuat.
Buktinya, sampai sekarang, ketika semuanya sudah hampir lulus kuliah, mereka masih sangat dekat.
Walaupun memang tidak semua temannya ini melanjutkan kuliah di Indonesia, jadi mereka tidak bisa bertemu setiap saat.
Termasuk Monika sendiri.
Monika memilih melanjutkan studi di Australia, mengambil jurusan musik di suatu universitas terkemuka di sana.
Meninggalkan untuk sementara, kedua orangtua yang senantiasa memberikan dukungan padanya.
Sebenarnya tidaklah susah untuk meninggalkan kota Semarang.
Toh Monika dan orang tuanya masih bisa berkomunikasi dengan telepon, dan e-mail.
Namun yang susah adalah meninggalkan teman-temannya.
Oh, mungkin bukan ‘teman-teman’.
Tapi lebih tepatnya, salah satu teman.
“Hoi!” Regina, salah satu teman Monika memanggilnya.
“Ginaa!! Jangan ngaggetin orang sembarangan dong!” sahut Monika kesal.
“Idiih, diingetin malah marah, ntar kalo kesambet..” Regina membalas dengan genit.
Monika memutar bola mata sambil tertawa kecil. Ia memang tak pernah percaya hal semacam itu.
“Eh, lagi ngelamun apa nih? Hayyooo...” Regina lalu bertanya.
“Yee, siapa yang lagi ngelamun? Hahaha.. Nggak kok, enak aja di luar, dingin-dingin plus ujan.” Monika menjawabnya simple.
“Ooo. Kirain lagi inget si ‘dia’ tuhh. Hahaha!” Regina tertawa puas.
Sedang Monika, cuma bisa tersipu dan mengejar Regina yang masuk ke villa.
Tapi toh dia kembali lagi ke luar,
Duduk di tempatnya yang semula,
Dan kembali pada lamunannya yang tadi.
Ya, selalu terkenang dalam benak Monika, betapa temannya itu sangat gentleman.
Selalu peduli pada Monika, tapi dengan caranya yang tidak berlebihan.
Dia selalu ada buat Monika, dan selalu siap meminjamkan pundaknya buat Monika.
Dia memberi warna-warna baru buat hidup Monika.
Tapi dia juga memberi ruang bagi Monika untuk mewarnai hidupnya..
Dia meneruskan studi di Amerika, jurusan perfilman.
Komunikasi mereka jadi kurang, walaupun tetap ada.
Tentu saja karena biaya yang lebih mahal dan kesibukan masing-masing.
Terutama Monika,
Yang baru saja diwisuda atas kelulusannya.
Dan kelihatannya dia juga hampir lulus.
Entah apa dia akan datang ke acara ini...
Saat sedang enak-enak menegak teh panas, ada sepasang tangan memeluknya dari belakang, lalu melepaskannya lagi.
O-o!
Monika hampir saja tersedak.
Ckckck, ada-ada saja orang itu.
Mengageti orang lain saat sedang minum.
Untunglah, Monika berhasil menenangkan diri dengan cepat lalu meminum teh yang ada.
Monika lalu berbalik.
Dia siap memarahi orang yang merusak momen ini.
Tapi begitu ia lihat siapa yang akan jadi ‘korbannya’
Senyum lebar langsung menghiasi wajah manisnya.
“Jonathan!”
Monika senang tapi, masih tidak percaya pada penglihatannya.
Tapi dia pasti Jonathan!
Rambut karamel keturunan kakeknya, mata yang cokelat tua, tidak salah lagi.
Beberapa teman sudah menasihatinya agar memanggil namanya dengan ‘Jo’ saja, tapi dia lebih suka nama Jonathan.
“Mon, aku kangen banget sama kamu.” Kata-kata pertama yang Monika dengar lagi secara langsung setelah sekian lama.
Secara reflek, Jonathan memeluk Monika lagi.
Mm! Monika merasakan kehangatan dan wanginya tubuh Jonathan.
“Masih ingat nggak, sudah berapa lama sejak terakhir kita ketemu?” Jonathan bertanya.
“Mmm, 4 tahun, 5 bulan, 20 hari...” Monika menjawab seraya menghitungnya.
“Terus 2 jam, 17 menit, dan 39 detik.” Jonathan melanjutkan sambil melihat arloji biru di tangan kirinya.
“Bener kan?” dia mengkonfirmasi.
Monika membalas dengan anggukan.
Keduanya saling menatap dan tersenyum.
Lalu tanpa sadar, Jonathan kembali memeluk Monika.
“Aku kangen banget sama kamu.” Dia mengulang pernyataannya.
“Mau tahu nggak? Aku juga.” Monika membalas.
“MON! MONIKAA! MAININ GITAR LAGI DONG!” suara salah satu temannya yang sekeras petir mengagetkan mereka berdua, dan mereka melepaskan pelukan.
Monika tersenyum singkat, lalu mengajak Jonathan ke dalam.
Jonathan mengambil tas pakaiannya, lalu menyusul Monika yang sudah masuk.
“Wah, Jo! Kamu nggak berubah ya?”
“Wah, udah jadi sutradara nih.”
“Bawa oleh-oleh nggak?”
Begitu heboh reaksi teman-teman Monika, terutama yang cowok, saat melihat Jonathan masuk ke Villa, tentu saja setelah mengerumuni dan menghadiahi Jonathan dengan ‘Pukulan di punggung’ alias tanda selamat datang khas cowok.
“Ayo, mo nyanyi lagu apa nih?” tanya Monika setelah semuanya duduk manis seperti anak SD.
Tanpa dikomando, teman-temannya langsung sibuk memaparkan ide lagu untuk dinyanyikan.
Akhirnya Monika memilih 1 lagu.
Lagu Dealova, salah satu lagu kesukaannya.
Semuanya ikut bernyanyi, dan seakan tersihir mendengar permainan musik Monika.

Setelah agak larut malam, karena semua sudah capek dan besok mereka akan hiking, mereka memilih tidur.
“Good night, Monika.” Jonathan menghampiri Monika sebelum ke kamarnya.
“Good night, Jonathan.” Monika tersenyum.
Duh. Kok bisa sih aku mimpi kaya gini?
Jonathan?
Tapi dia udah nyakitin aku berkali-kali.
Kenapa aku masih mimpiin dia?
“Morning semuanya!” Monika menyapa semua teman-temannya di ruang makan yang sudah berkumpul dari tadi .
“Mmm, sori. Kesiangan yaa?” dia jadi malu sendiri karena kesiangan.
Semua kawan-kawannya memasang tampang kurang bersahabat.
Karena mereka ingin sekali lagi menunjukkan kekompakan, mereka menunggu semua teman hadir di meja makan, baru mulai makan pagi.
“Jo yang dari US aja gak telat, kok kamu yang cuma dari Aussie telat?” tanya Regina kesal, mewakili kekesalan seluruh teman-temannya.
Namun, tak lama, mereka tersenyum-senyum dan tertawa, melihat wajah bingung Monika.
Haha! Ya, dia berhasil dikerjain oleh teman-temannya.
Mereka lalu sarapan pagi bersama-sama, dan renungan pagi.
Setelah mengambil barang-barang yang diperlukan, mereka melanjutkan dengan hiking.
Para cowok mulai ngobrol seputar bola, dan teknologi, otomotif, dan sekolah,
Sementara para cewek asyik ngobrol mengenai Semarang Great Sale yang baru aja selesai.
Monika, memang tipe cewek yang agak pendiam dan suka menyendiri, tapi tetap saja gaul dan friendly. Dia memilih jalan sedikit dibelakang teman-temannya, menikmati pemandangan alam yang indah lebih lama lagi.
Tiba-tiba, sebuah tangan yang terbungkus sarung menyentuh tangannya yang agak dingin.
Lalu meraihnya,
Dan menggandengnya.
Monika sangat terkejut atas tindakan Jonathan ini.
Monika tidak terbiasa dengan hal ini, ia mencoba melepaskan tangannya, tapi Jonathan menggenggamnya erat.
Yang bisa dia lakukan hanya berdoa tidak ada teman-temannya yang memperhatikan hal ini.
Mereka berhenti di sebuah pos peristirahatan setelah beberapa saat.
Pos ini kecil. Makanya penuh saat rombongan Monika datang walaupun hanya 10 orang.
Alhasil, beberapa teman harus rela menikmati istirahat di luar bangunan.
Tapi bagi Monika, hal ini tidak masalah, justru ia akan sangat menikmatinya.
Tadinya ia pikir begitu.
Namun, tanpa disangka, cuaca di luar semakin dingin.
Ia hanya bisa berusaha menikmati dinginnya udara sambil meniup-niup tangannya,
Agak menyesal ia lupa membawa serta sarung tangan ungu kesayangannya
“Nih!” lagi-lagi sebuah tangan tampak, kali ini dengan menyodorkan gelas yang isinya masih mengepul.
Segera saja, Monika meraihnya, lalu meminumnya.
Monika memejamkan mata, hmm, rasa manis dan kehangatan teh manis yang diminumnya menjalar sampai ke kakinya.
“Trims.” Dia membalas Jo singkat, yang dibalas lagi dengan sebuah senyuman.
Tepat saat Monika selesai menegak segelas teh panas, perjalanan dilanjutkan.
“Kuliah kamu gimana? Udah selesai?” Monika bertanya pada Jonathan yang mengambil tempat di sampingnya.
“Udah, udah. Kalo kamu sendiri? Udah selesai juga ya?” Jo membalas.
“Iya.” Monika menjawan singkat.
“Mon, aku mau tanya sesuatu, tapi kamu jangan marah yah.”
Monika belum pernah melihat sahabatnya yang satu ini ragu.
Ada apa ya?
“Kamu udah punya cowok belum?”
Hah?
Seumur-umur mereka kenal, emang Jo belum pernah menyinggung tentang hal ini. Kenapa tiba-tiba bertanya begitu?
“Hmm, kenapa emang?”
“Mau jadi cewekku nggak?”
Mimpi ini lagi!
Apa artinya?
Apa ini artinya dia orang yang tepat buat aku?
Kalo dia emang orang yang tepat, mungkin aku akan mimpiin dia lagi...
Tapi dia bener-bener aneh sama aku!
Nyakitin aku berkali-kali...
Sore itu, setelah pulang hiking, mereka berkumpul untuk main Dare or Truth.
Sekalian untuk nostalgia.
Ketika giliran Monika tiba...
“Mon! Pilih truth apa dare?”
“Mmmm. Mmmm. Aku milih truth aja deh!” Monika memilih.
Teman-temannya sibuk berdiskusi, sementara dia harap-harap cemas menunggu pertanyaan yang bakal diajukan.
“Oke, pertanyaannya adalahhh.... Hubungan kamu sama Jo apaan sih? Masa’ dari sekolah sampe sekarang cuma temen?”
Deg.
“Mmm, ngga papa dong, kamu aja nggak pacaran sama dia kan? Padahal deket dari SMP.” Monika menjawan sambil menunjuk 2 orang temannya. Jawaban Monika ini disambut gelak tawa seluruh sahabat-sahabatnya.
“Idiih! Tapi kan maksudnyaa...”
Hihi! Monika tertawa geli karena bisa membuat temannya gemas sambil menatap Jonathan yang juga geli.
“Oke deh, giliran Jonathan, truth aja yah. Pertanyaannya sama!” si pemimpin permainan agak memaksa.
“Iya deh.” Jonathan melihat ke Monika sekilas, seakan tahu apa yang harus dilakukan.
“Semuanya, kenalin, ini pacarku.” Jonathan mengumumkan sambil menggandeng tangan Monika.
Serempak, semua teman bertepuk tangan, setengah terkejut, setengah senang.
Apa artinya, aku memang akan..? ah sudahlah, biar waktu yang menjawabnya...

Pangeran Mimpi jilid 2

Nii ada 1 lagi cerita tentang Pangeran Mimpi..
dari seorang teman yang berbeda..
^^

Pangeran Mimpi jilid 2
Malam itu..
Aku tidur sangat nyenyak..
Mimpi yang, hmmm, cukup aneh datang,
tapi justru membuatku tidur lebih nyenyak lagi.
Seperti biasa, aku duduk di tepi danau tempat aku biasa menghabiskan sore. Danau yang mungkin hanya satu di dunia, karena warnanya yang unik dan jernih. Biru kehijauan, dan akan memantulkan warna pelangi saat menjelang sore.
Sore ini aku hanya melamun,
Menatap ikan-ikan yang berlalu-lalang di bawah sana.
Menikmati sepinya danau ini,
Dan juga suasana sepi hutan ini.
Sambil bersenandung, aku menatap matahari yang sebentar lagi akan tidur.
Aku tatap lagi danau itu,
Melihat bayangan diriku sendiri,
Seorang gadis dengan gaun biru tua, rambut lurus sepingang, dengan sekuntum kecil bunga disematkan di rambutku.
Lalu,
Bayangan lain muncul di belakangku.
Di sertai sebuah tangan mendarat di bahuku.
Aku terlompat kaget.
Seorang pria, umurnya mungkin sepantaran denganku.
Badannya tinggi dan tegap, matanya yang jernih dan rambutnya yang agak panjang sehitam malam.
Kulitnya cokelat, terbakar sinar matahari.
Dia mengulurkan tangan membantuku berdiri.
Entah kenapa, walaupun aku belum mengenal siapa dia, aku tidak takut padanya.
Aku menyambut uluran tangannya lalu berdiri.
Lalu, masih menggenggam tanganku, dia mengajakku ke sebuah gubuk kecil, di tengah area perkebunan. Beberapa ibu tampak berlalu lalang mengolah tanaman.
Ia membawaku masuk ke dalam gubuk, lalu mempersilahkan aku duduk di sebuah bangku di meja makan.
Lalu untuk pertama kalinya aku mendengar suaranya yang muda tapi berwibawa.
Yang membuatku serasa mendengarkan alunan musik yang merdu.
“Mungkin kamu belum pernah bertemu aku. Tapi aku merasa mengenalmu. Aku akan jujur. Setiap hari saat kamu bersenandung di tepi danau, aku mengikuti dan melihatmu dari atas pepohonan. Awalnya, aku hanya tertarik pada suaramu yang sejernih danau itu. Namun, lambat laun aku merasa hatiku ikut terbawa nyanyianmu. Aku merasa ada yang kurang bila tidak melihatmu walau satu hari saja. Bukan lagi karena aku ingin mendengar suaramu yang merdu itu. Aku tahu ini mungkin gegabah atau aneh karena kita belum saling mengenal. Tapi, aku.. aku..”
Dia berdehem lalu akhirnya melanjutkan.
“Aku mencintaimu.”
Sontak aku berdiri.
Terlalu terkejut.
Terlalu bingung untuk mengatakan apapun.
Dia berdiri pula dan meraih tanganku.
Uniknya,
Ia tidak menunggu jawaban apa-apa dariku.
Mungkin, bila aku mengetahui bahwa dia mencintaiku itu sudah lebih dari cukup baginya.
Untuk pertama kalinya, seorang orang yang tidak aku kenal betul,
Menyentuh rambutku dan membelainya lembut.
Aku memejamkan mata, dan seolah-olah semuanya terasa sangat benar.
Tiba-tiba ia mendekatkan dirinya, jarak kami tidaklah banyak.
Ia membawaku dalam pelukan yang hangat, lalu mengecup dahiku, dan kembalu memelukku.
Saat ia melepaskan pelukannya,
Aku menatap matanya dalam,
Sama seperti ia menatap mataku.
Seakan kami selalu mengenal dan ingin terus dekat seperti ini.
Anehnya..
Banyak ibu-ibu yang lalu lalang, seakan tak terbatasi gubuk, dan tak terganggu keberadaan kami di sini.
Aku terbangun, tersentak.
Aku melihat di sekelilingku,
Masih di rumah, di tempat tidurku yang biasa.
Ahh,
Sayang,
ini semua hanya mimpi.
Sayang,
Semuanya terlalu nyata untuk jadi cerita bawah sadar.
Dan, ah, ya.
Aku tak tahu siapa dia.
“Gina, ayo cepat sedikit!” Ibu memanggil aku. Kami akan ke desa di tepi hutan hari ini. Ada semacam penyuluhan dan ibu sebagai pemimpin ibu-ibu di desa ini harus ikut.
“Iya, bu!” aku menyahut.
Sebelum ke balai desa, kami berbelanja sedikit.
Sesampainya di tujuan, barang belanjaan yang tadi dipegangi ibu saat aku menyetirkan sepeda aku letakkan di gagang sepeda dengan bantuan ibu.
Sambil meletakkan barang-barang, aku melihat sekeliling, membiasakan diri dengan tempat yang sudah sering aku kunjungi
Tiba-tiba,
Mataku berhenti di satu titik.
Sosok tinggi itu.
Rambut hitam yang terurai agak panjang..
Kulitnya yang kecoklatan..
Bukankah dia..
Oh!
Dia juga melihat ke arahku, walaupun tidak sedang berjalan ke arah ini.
Aku ingin melambai memanggilnya.
Tapi, ah, apa gunanya.
Kami hanya bertemu dalam mimpi.
Tapi sepertinya aku salah.
Dia melihatku dan menghentikan langkah dan obrolannya dengan seorang temannya.
Mataku terpaku pada mata hitam legamnya, dan matanya terkunci oleh mataku.
Detik itu pula, aku yakin dialah sosok dalam mimpiku!
Aku ingat tatapan ini.
Astaga!
Sepertinya dia mengenaliku.
Tepatnya, mengenali tatapan ini juga.
Mungkinkah,
Kami benar-benar bertemu, walaupun dalam mimpi?
Dia membalikkan tubuhnya,
Lalu berjalan, perlahan namun pasti, ke arahku.
Dan aku juga bisa merasakan kaki-kakiku melangkah tanpa keraguan ke arahnya.
Mata kami terus saling menatap,
Menghiraukan segala aktifitas yang berlangsung di sekeliling kami.
Menghilangkan segala rintangan yang ada di antara kami.
Saat kami akhirnya bertemu,
Bibirnya membentuk seulas senyum.
Sungguh,
Aku belum pernah bertemu orang ini.
Tapi hatiku mengatakan sebaliknya.
Sekali lagi,
Ia menggenggam tanganku,
Lalu mencium pipiku dengan lembut.