Kotak, check. Bolpen, check. Kertas dan amplop, check. Gantungan kunci... Check. Wristband, check.
Diana menarik kursi dan akhirnya duduk. Langsung dia meraih pena bertinta hitam di depannya. Sempat memainkan tutupnya sejenak. Lalu mulai menulis sebuah surat.
Tiga tahun yang lalu, seorang gadis terjatuh ke dalam perasaan yang disebut cinta.
Gadis itu benar-benar terpesona pada seorang pria. Gadis itu tidak bisa berhenti memikirkan sang pria, pagi hingga malam, bahkan terbawa dalam mimpi berkali-kali.
Bulan dan matahari bergantian bersinar, hari berganti hari dan bulan berganti bulan.
Sekian bulan tanpa saling berkomunikasi belum menyurutkan cinta gadis itu.
Kenangannya mengenai pria itu terus memberinya inspirasi untuk hidup, bermimpi, menulis.
Setiap malam, dia berdoa untuk si pria. Berdoa agar dia diberi kekuatan, berdoa agar dia diberi bahagia. Meskipun itu berarti harus berada bersama orang lain. Dan doa itu terus dipanjatkan meskipun rasa cinta itu sudah mulai menghilang.
Sekarang, gadis itu hanya ingin memberimu sedikit tanda terima kasih, karena pria itu kamu. Mungkin kamu tidak pernah merasa membuat seseorang jatuh cinta, dan mungkin kamu tidak tahu siapa gadis itu. Tidak apa-apa. Aku hanya ingin berterima kasih atas semua yang pernah kamu berikan. Langsung maupun tidak langsung. Kalaupun kamu tahu siapa penulis surat ini, mungkin kalau kita bertemu lagi, kita tetap bisa berteman?
I will always treasure you.
Diana membaca surat itu sekali lagi, mengangguk puas setelah surat itu habis. Dilipatnya kertas menjadi 3 bagian. Satu, dua. Lalu dengan cekatan, diambilnya amplop dan diisi. Amplop itu dia lempar ke dasar dangkal kotak. Dia menimbang sebentar, lalu memutuskan untuk tidak memberi nama di amplop lagi.
Wristband yang terbaring, gantian ia beri gerakan. Diambilnya wristband itu, dan sebuah gunting, lalu menggunting hingga putus label harga yang masih tertera. Senyuman miris mengantar wristband itu berkenalan dengan amplop yang ia tindih.
Suara gaduh kecil sekarang terdengar, dari gerakan gantungan kunci. Diana mengambil gantungan kecil berwujud gitar itu, memutarnya cepat untuk kelihat keadaan gantungan berusia 2 tahun itu. Masih baik. Dan bergabunglah ia dengan si wristband.
Diana menatap kotak itu, lama. Kini terlintas hebat di memorinya, malam-malam di mana dia tersenyum membaca kata-kata Liam. Malam-malam di mana dia mencuri waktu istirahatnya sendiri, untuk dicuri hatinya oleh Liam.
Malam-malam di mana tangis menjadi kawan karib, karena rindu membebani, atau sekedar karena clueless, apa kabarnya hari itu. Malam-malam di mana dia tidak bisa terlelap, berharap bintang adalah tukang pos.
Juga pada hari-hari di mana dia merasa girang telah di beri panggilan sayang, atau sekedar di sapa. Dan hari-hari di mana senyumnya hilang melihat Liam yang tiba-tiba sudah punya kekasih baru.
Diana menggeleng, tertawa pilu. Liam tidak perlu mendengar bagian kisah yang itu.
Diana menggeleng lagi, kali ini sambil menghalau air mata yang mulai menumpuk. Diambilnya tutup kotak dan dengan lembut ditutupnya kotak. Sambil berusaha mengemas pula, dalam waktu yang hampir bersamaan, ribuan kenangan peninggalan Liam di otak dan hatinya.
-*^^*-
0 comments:
Post a Comment