Monday, April 30, 2012

merindu :P


Sudah berapa matahari yang terbenam tanpa senyumanmu?
Sudah berapa bulan muncul tanpa suaramu?
Sudah berapa masa berlalu tanpa menjawab panggilanmu?
Sudah berapa musim berganti tanpa menanggapi gurauanmu, candaan, kata-katamu?

Aku rindu senyummu, tawamu, kisahmu..
Aku ingin melihat, mendengar semuanya itu..

Mereka tak harus tergubah khusus untukku
Tapi biarkan aku ada di sana menikmatinya juga..
Kalau bukan secara nyata, bolehlah lewat perantara..

Karena bahkan hanya air mata yang bisa memberi tahu orang lain, bagaimana aku merindukanmu..

-Ap.27, menjelang tengah malam-

Wednesday, April 11, 2012

Life Lesson :)

nggak bisa dibilang ini cerita karanganku, karena ini pure dari mimpi..

terus meng-haunt aku setiap kali inget dengan tokoh utamanya :(
ada tambahan dikit terutama di ending-nya :)

Okay, let me just say,
It's always a writer's pleasure to find a life lesson while writing a piece,
so here it is, *hope you'll like it*



LIFE LESSON


"Serius lo, Yon? Elo beneran married sama Brenda?" tanyaku nggak percaya. Undangan bernuansa hitam-putih yang sederhana tapi elegan mengatakan hal itu. Dion & Brenda. "Gue juga nggak percaya waktu gue tau, tapi emang beneran kok!" Felix menimpali.

Aku tersenyum lebar, tapi masih heran, rasanya semuanya ini hal yang agak ‘ajaib’. "Sayang ya, gue masih di Aussie, nggak bisa dateng. Elo sih nggak ngabar-ngabarin dulu!" kataku. Aku belum bisa membayangkan Dion dalam jas, berjalan ke arah pelaminan. Bukan Dion banget. “Maaf deh. Soalnya gue takut bakal ganggu kuliah. Kan tanggal itu deket ujian ya katanya?” Aku meringis. Iya juga sih, mau tahu pun aku mungin tidak bisa hadir. Tapi tetap saja aku menepuk pundaknya dan berkata, "Congratulations, yah!"

Dion dan Felix, kedua orang yang duduk di kursi depan, mereka adalah sahabatku dari SMP. Dan sekarang kita, teman-teman SMP, lagi ngumpul bareng, nostalgia, setelah setahun lalu kami lulus SMA. Nah, Dion dan Felix menawarkan diri buat anter-jemput aku selama di Indonesia, soalnya Papa Mama lagi pergi ke luar kota naik mobil, dan di rumah nggak ada mobil lain, plus rumah mereka berdua deket dari rumahku.

Omong-omong, hari ini mereka jemput karena ini adalah hari pertama kami akan pergi bareng. Tapi sebelumnya. aku ada acara dulu, sama temen-temen SMP yang cewek. Temen-temen cowok mau futsalan dulu. Katanya bukan cowok kalo nggak olahraga. Jadi, daripada kita cewek-cewek nongkrong nggak jelas di tempat futsal itu, mendingan kita di sini, di sebuah tempat yang menyewakan beberapa studio tari besar. Yep, hampir semua anak-anak cewek di sini emang penari, dari berbagai genre, termasuk aku. Lagian di sini tempat ngobrolnya lebih enak, ditemenin alunan musik, bukan suara bola ditendang-tendang. Hehe :P

Mobil lalu berhenti di tempat tujuan, dan aku segera turun. "Ntar kita jemput lagi, jam 2 ya!" kata Felix. "Iya, makasih ya. Skali lagi congratz yah, Yon!" Aku menutup pintu belakang dan berlari masuk. Tidak sempat memperhatikan senyum Dion yang nggak selebar biasanya.

-*^^*-

"Eh, Ngel, lo tau nggak kalo si Dion tuh udah married loh! Padahal kan setau gue waktu terakhir SMA dia tuh suka sama Yesi yah? Terus dia kan baru seangkatan kita, kita kan baru aja selesai semester 2!" Angel langsung mengangguk, "Gue tahu, gue dateng kok pas acaranya. Kasian banget deh dia," kata Angel.

"Kok kasian, sih? Seneng dong buat temen kita!" kataku, bingung. Angel lalu ngeliatin dengan muka nggak ngerti, lalu tiba-tiba mendapat 'ilham'. "Lo nggak tau kejadian pas hari-H ya? Elo kenal Brenda nggak?" Aku menggeleng ragu. "Gue cuma tahu aja Brenda yang mana. Emang ada apa?" tanyaku.

Angel menghela nafas, terus bercerita. "Brenda itu kena leukimia, waktu hidupnya nggak lama waktu dia divonis. Orang tuanya berusaha mengambulkan permintaan-permintaannya. Dan salah satunya adalah dia pengen ngerasain apa yang namanya menikah, sama orang yang selama ini dia suka, Dion. Waktu Dion tahu, dia shock banget, lo tau kan waktu itu dia nggak gitu suka sama Brenda. Dari SMP sampe kuliah pun, dia tetep suka sama Yesi. Tapi entah gimana dia akhirnya agak luluh, mengingat itu permintaan terakhir Brenda. Lo juga tahu kan Dion emang tipe orang yang ngehargain banget hal-hal kaya gini. Terus akhirnya mereka jadi married deh. Tapi sebelumnya keadaan Brenda udah parah banget, dan di situlah Dion - gue juga nggak tahu gimana- mulai sayang sama Brenda."

Aku tertegun, ternyata ada kejadian seperti itu. Tapi lalu Angel melanjutkan.. 
"Tapi waktu hari-H nya, si Brenda bener-bener parah banget keadaannya. Dia bener-bener cuma bisa duduk di kursi roda, lemes, nggak bisa ngapa-ngapain. Tadinya mau dibatalin pernikahannya karena keadaan Brenda. Menurut gue harusnya Dion seneng, dia bisa ngejar Yesi lagi, tapi dia malah yang bersikeras untuk wedding-nya tetep dijalankan. Dia paham banget kalo waktu Brenda sangat sempit. Acara tetep dilangsungkan, tapi begitu acara gereja selesai, Brenda langsung aja pingsan. Dia langsung dibawa ke rumah sakit, dan ternyata itu hari terakhir dia. Gue sendiri sedih banget ngeliat Dion. Dion sedih banget, dan itu kali pertama gue ngeliat dia nangis. Iya, nangis! Padahal beberapa jam sebelumnya dia baru aja senyum waktu dia diberkati sama pendeta di gereja. Dia akhirnya bener-bener bisa sayang sama Brenda, dan gue sih seneng bahwa sebelum Brenda pergi, dia tahu hal itu. Semua keinginannya udah dipenuhin."

Aku benar-benar speechless. Yon, elo nggak cuma 'menikah', elo juga ngorbanin hidup elo, diri elo, masa depan lo buat Brenda...

-*^^*-

"Ada yang ketinggalan nggak? Langsung jalan aja yah?" tanya Felix waktu aku masuk ke mobil. "Iya langsung aja. Udah lengkap semua kok, yang lain nanti nyusul di mobil lain," jawabku. Begitu pintu mobil tertutup, pandanganku langsung nggak bisa lepas dari Dion.  Ada sebuah perasaan yang begitu aneh. 

Perasaan yang campur aduk.

"Elo kenapa ngeliatin terus?" tanya Dion menoleh ke belakang, tersenyum dengan cara yang agak aneh. Aku tersadar, dan langsung tersenyum menggeleng, "Eh, enggak." Tapi lalu aku mendesah sebelum dia menoleh ke depan lagi, aku memberi kode untuk Dion supaya sebentar lagi dia melihat HPnya. Aku segera mengetik pesan ini. Rasanya aku nggak sampai hati untuk menyampaikan ini langsung di depannya.

"Sorry,

Sorry banget, gue nggak tahu kalo Brenda udah nggak ada. Makanya tadi gue malah excited banget. 
Tadi gue baru aja diceritain sama Angel.

Gue ikut sedih, Yon, gue tahu elo sayang banget sama dia.

Tapi jujur gue bener-bener salut banget sama elo, Yon. Pilihan itu nggak gampang, dan enggak semua orang mau berkorban.

Gue seneng gue punya temen yang bener-bener menghargai kehidupan.

Dan gue tahu, gue patut berbangga, karena temen gue bisa bikin hari-hari terakhir seseorang sangat berarti dan dia bisa pergi dengan tenang. "

Sms itu langsung terkirim, dan masuk ke HP Dion. Dia langsung membaca, (dan untung di saat-saat ini Felix lagi konsentrasi nyetir jadi dia nggak pengen tahu). Begitu dia selesai membaca, dia langsung menoleh ke arahku. Dia tersenyum, tersenyum dengan cara yang dewasa, temanku yang mengajarkanku arti kehidupan.

Ya, hari itu dia mengajarkanku sebuah arti lain dari hidup. Hidup kita itu nggak selamanya cuma buat kita sendiri. Kadang kala kita harus berkorban untuk orang lain. Tapi aku yakin, kalaupun kita akhirnya harus mengorbankan hidup kita, keinginan kita, masa depan kita, kita akan mendapatkan sesuatu yang berharga. 

Contohnya cinta.

------

Comments please :P
^^

Saturday, April 7, 2012

Quotes of the month :)

Okay,
These are not really quotes,
These are just things that I thought of this week :)

 1.
I've broken so many hearts (believe it or not),
 I think I shouldn't complain when the person I love broke my heart, eh?

 2.
 It's sad to see your friend heart-broken,
like crazyy saaadd :(:(:(
 But it's even worst, to know that the person who broke his/her heart is your best friend..
Coz you kindda wanna hate the 'heart-breaker' but you can't because he/she is your besties..

Tuesday, April 3, 2012

Matahariku


Jatah cerita bulan April :D
gomenasai karena ceritanya super pendek dan sedih..
terinspirasi darii sebuah episode TV Series dan sebuah puisi :)

ENJOY!

-*^^*-



MATAHARIKU

Nafasnya tidak teratur, pandangannya mulai kabur, tidak percaya pada apa yang dilihatnya. Tidak tahu ke mana harus berlari, pada yang telah dipilihnya atau yang ingin dipilihnya, dia memutuskan untuk berlari ke arah yang benar-benar berbeda.

Petra, sosok yang biasanya begitu kuat, gagah, sekarang terbalut perban dengan bercak darah di mana-mana. Terbaring lemah dan kata dokter adalah mujizat apabila dia membuka mata lagi. Dan sayangnya, di detik itulah Lisa baru menyadari bahwa hati dan jiwanya masih separuh tegantung pada orang itu, bukan orang yang sekarang berada dipilihnya. Dia tidak akan merasa hidup lagi kalau orang itu pergi untuk selamanya.

3 tahun lalu, Lisa memang sempat hampir menyerahkan hatinya pada Petra saat Petra memintanya, tapi saat itu keadaannya sangat membingungkan.

Petra adalah seorang cowok yang sangat terkenal, di sekolah maupun luar sekolah. Dia lumayan ganteng, dan sebuah kelebihan yang nggak dimiliki banyak orang, suka membuat puisi cinta untuk cewek-cewek. Bayangkan, bagaimana para gadis tidak jatuh cinta padanya, dan mungkin inilah yang membuat Petra jadi dekat dengan gadis-gadis itu.Tentu saja Lisa nggak mau punya pacar yang seperti itu. Siapa yang bisa memberi jaminan kalau nanti kedepannya Petra nggak akan seperti itu? Apalagi pilihannya bukan hanya Petra, ada juga Dicky.

Nggak jauh beda dengan Petra, Dicky juga salah satu cowok yang terkenal, ganteng, pintar. Tapi perbedaannya, Dicky nggak seperti Petra. Dia tahu bahwa gadis yang butuhkan adalah Lisa, dan karena itu dia nggak berusaha dekat dengan cewek lain, walaupun penggemarnya juga sangat banyak.

Perbedaan lainnya ada pada Lisa. Kalau ditanya sungguh-sungguh, dia akan memilih Petra. Mereka sudah mengenal sejak kecil, jadi sudah benar-benar kenal dari hati ke hati, nggak sekedar perasaan yang kosong. Dicky baru ditemuinya saat akhir SMP dan walaupun mereka dekat dan Lisa bisa dibilang menyukai Dicky, tapi Dicky belum 'memenangkan' jiwa Lisa saat Dicky meminta Lisa menjadi gadisnya.

Saat Lisa akhirnya harus memilih, Lisa akhirnya memilih berdasarkan pikiran otaknya, dia memilih Dicky. Dicky yang sudah menunjukkan janjinya dengan selalu berada dekat Lisa, bukannya Petra yang sebenarnya lebih dia sayangi, tapi masih pula dekat dengan banyak gadis lain.

Waktu Petra tahu akan hal ini, dia sangat terpukul. Dia berkali-kali berusaha untuk meyakinkan Lisa untuk memikirkan ulang pilihannya, tapi Lisa tidak pernah mengiraukkannya. Bukan karena tidak mau, tapi dia tahu, jika terus dipikirkan, maka dia akan memilih berbeda. Tapi sekali lagi, orang tua dan sahabatnya pun lebih memilih Dicky yang dari sekarang saja sudah menghargai apa yang namanya kasih sayang antara 2 orang.

Tapi hari ini, saat Lisa mengingat lagi, rasanya semuanya sia-sia. Saat melihat Petra terbaring begini, ingin Lisa memeluk dan menularkan sebagian kekuatan dan kesehatannya pada Petra. Ingin rasanya Lisa mencari dan menemukan orang yang telah menabrak Petra dalam kecelakaan ini, yang sudah menghancurkan Petra. Karena baru kali ini dia mengakui pada dirinya sendiri, bukan Dicky yang dia inginkan berada di sampingnya, tapi Petra.

"Lis, kamu dicari sama Petra," suara Dicky tiba-tiba berbisik pelan di samping telinga Lisa, membuat dia terlompat kaget. "Petra, sadar?" tanya Lisa dengan suara yang begitu bergetar. "Iya, tapi kata dokter, ini mungkin untuk yang terakhir kali," kata Dicky sambil mengelap pipi Lisa yang basah.

Lisa memandang Dicky dengan tatapan yang sendu, “Maaf ya,” kata Lisa berbisik. “Nggak papa,” jawab Dicky pelan.

Di satu sisi, ini meremukkan hati Dicky sampai pada kepingan terkecil. Melihat Lisa seperti ini, artinya hati Lisa sebenarnya masih ingin memilih Petra. Tapi hatinya sudah memutuskan, apapun yang terjadi dia akan tetap ada di sisi Lisa.

Dicky lalu mengajak Lisa masuk ke ruang ICU. Mata Petra terbuka, tapi begitu rapuh dan lemah. Lisa langsung menangis hebat, dan berlari ke samping Petra, ingin memeluknya, tapi nggak mau menyakitinya. Petra mengisyaratkan agar Lisa mendekat, dan dengan suara bisikan terpelan, dia membisikkan serangkaian kata-kata perpisahan. Tidak ada yang bisa mendengar, karena bahkan mungkin kata-kata itu diucapkan separuh suara dan separuh lewat hati.

"Lisa, maaf kalau selama ini aku nggak bisa seperti yang kamu harapkan. Maaf kalau setelah ini aku nggak bisa ada bareng kamu. Tapi aku mau kasih tahu kamu satu rahasia, semua puisi cinta yang pernah aku kasih ke cewek-cewek itu, semuanya sebenarnya buat kamu. Walaupun kita deket dan aku juga pernah nembak kamu, sebenernya aku ngerasa nggak cukup baik buat kamu, makanya aku dekat sama mereka. Tapi, ijinin aku untuk kasih puisi terakhir aku, benar-benar untuk kamu, di depan kamu.


"Kepadamu, matahariku,

Aku tidak sempurna
Aku terjatuh dan terluka
Aku tidak patut, tidak layak
Mencintamu, matahari

Tapi tak bisa kuhilangkan
Sinarmu dari hatiku
Tak bisa kulupakan
Tatapan dan senyumanmu

Matahariku,
Maafkan aku karena aku mencintaimu,
Dan terus ampunilah aku,
Karena ada satu hal yang pasti

Sampai di ujung nafasku
Dengan segenap kekuatanku
Aku akan tetap mencintaimu."

Dengan nafas tersenggal, Petra menyelesaikan puisinya, kali ini tepat didengarkan oleh orang yang sebenarnya menerima segala puisi-puisinya. “Terima kasih,” bisik Lisa. Tidak ada kata-kata lagi yang bisa Lisa keluarkan, tapi kata-kata ini bergema dihatinya, jangan meminta maaf, karena aku juga mencintaimu.

Tak lama kemudian, Petra memejamkan matanya, diiringi raungan tangis Lisa yang mengisi kekosongan ruangan itu. Dicky berusaha menenangkan Lisa, memeluknya. Sementara Lisa terus terisak dalam pelukan Dicky, Lisa bisa merasakan separuh hatinya hilang pergi.


----

sedih yaa?
maaaffff :(
komen pls :)

p.s.: new ava :D