Tuesday, March 6, 2012

harus dengan cara beginikah?

harus dengan cara beginikah kita berpisah?

sore ini tiba-tiba saja aku mengenang pertemuan singkat kita..
dan, ah, entah mengapa,
tatapan terakhirmu itu rasanya ganjil..


sore ini tiba-tiba saja air mata tidak bisa berhenti mengalir..
aku tak tahu mengapa pada awalnya,
tapi sekarang rasanya aku tahu,,


harus dengan cara beginikah kita berpisah?
dengan diam seribu bahasa?
tanpa kabar dan berita?


memang tidak untuk selamanya, mungkin..
tapi tatapanmu itu,
ah, tatapan itu seolah menandakan semuanya telah berakhir..


tak kulihat lagi senyuman,
dan bahkan satu pemandangan yang mematahkan hati kau tunjukkan padaku
walaupun mungkin juga itu hanya anganku


jadi,
harus dengan cara beginikah kita berpisah?

Lucky 3 ^^ (Part 2)

6 bulan berlalu sejak telepon itu. Selain rajin kuliah, Dito benar-benar bekerja keras untuk meningkatkan kemampuan dance crewnya. Rajin berlatih dan ikut pelatihan ini itu, selain juga ikut lomba-lomba dan job. Semua itu dia lakukan karena dia masih selalu mengingat kata-kataMita 5 tahun lalu.
“Hai,” sapa Dito. “Oh, halo,” kata Mita sambil tersenyum. Hari itu Mita dan Dito sedang sama-sama ikut lomba bahasa Inggris antar SMP, dan kebetulan mereka duduk sebelahan. Dari 2 kata itu, berlanjut menjadi perkenalan yang lebih baik, lalu berteman.
Suatu kali Mita ada show bersama kelompok ballet-nya, dan Dito kebetulan bisa nonton. Di sana, dia melihat suatu kesungguhan dari tarian Mita. Padahal, hari-hari itu, jarang orang masih jadi penari, terutama penari ballet.
“Kamu suka nari?” tanya Dito kemudian. “Iya, suatu hari nanti aku mau jadi penari ballet professional! Dibayar untuk menari, itu terlalu enak. Tapi itu yang aku inginkan. Sehari tanpa menari terasa, yah, hambar. Menari adalah hidupku, setiap langkah dan gerakan tangan adalah tarian.”
Dito termenung, terpukau dengan jawaban Mita. Dan dari situ dia tahu, kalau dia mau jadi bagian hidup dari gadis itu, dia juga harus memiliki ‘hidup’ yang sama, tari. Tapi dari pada menari ballet, di mana cowok itu jarang, dia memilih hip-hop, yang juga lebih style dia. Dan rupanya Mita juga menerima hal itu, dan mengijinkan Dito untuk masuk lebih dekat dalam hidupnya. Dan Dito juga tidak pernah lepas dari yang namanya hip-hop lagi, itu menjadi hidupnya sekarang.
-*^^*-
Dito sedang duduk-duduk di lorong kampusnya, hingga tiba-tiba seorang sahabatnya, Reno, yang berasal dari SMA yang sama, tiba-tiba berlari cepat menuju Dito. “Dit, cepetan sini!” kata Reno lalu berlari sambil menarik Dito. Dito nggak sempat ngomong apa-apa lagi, sambil berusaha menyeimbangan tubuh yang selalu hampir jatuh.
Sampai di depan TU, tubuh Dito mematung. Sosok itu dulu sangat sering ditemuinya. Ibunda Mita. Sepertinya sosok itu juga sedang memperhatikan Dito, yang walau dalam tempo kurang dari setahun sejak mereka terakhir bertemu, sudah berubah banyak. Wanita itu lalu berjalan mendekati Dito, sementara Dito masih berkutat dengan pikirannya, apakah Mita ada di sini juga?
Wanita itu seperti bisa membaca pikiran Dito. “Nak, Mita memang ada di sini, tapi dia pesan, dia belum bisa bertemu dengan kamu. Maaf ya, Dito.” Wanita itu terlihat sangat menyesal, tapi tetap tersenyum, seolah ingin menguatkan Dito. Dito hanya mengangguk samar, lalu tetap berdiri di tempat, mengamati wanita itu berbincang dengan rektor sampai kelas kuliahnya akhirnya dimulai.
Selama kuliah, Dito hanya bisa berkonsentrasi sedikit, karena separuh jiwanya memikirkan Mita. Apakah dia kembali untuk seterusnya?
Reno yang duduk di sebelahnya rupanya memperhatikan Dito. “Masih mikirin Mita terus? Aku juga, kaget banget lihat dia duduk di kursi roda.” Dito terlompat kaget, “Nggak, nggak mungkin!” desisnya. “Kamu nggak tahu? Kabarnya kan dia kecelakaan beberapa bulan lalu. Kayaknya sebelum kalian putus deh!” Dito tidak mendengarkan kata-kata Reno dan dosen lagi. Tubuhnya ada di kelas, tapi pikirannya berputar-putar, antara Mita, perkataan Reno tadi, dan sikap Mita selama ini.
Mita, sebenernya ada apa?
-*^^*-
“Nak Dito? Ada apa datang ke sini?” tanya Ibu Mita, agak terkejut melihat Dito datang ke rumahnya sore itu. Sebenarnya tadi Mita sudah memberi tahu ibunya, mungkin saja Dito akan datang sore itu, Mita tahu betul sikap Dito.
“Tante, apa saya boleh ketemu Mita?” tanya Dito hati-hati. Ibu Mita mengisyaratkan Dito untuk duduk. “Dia nggak bermaksud untuk menyakiti perasaan kamu, Dit. Tapi keadaan yang—“ “Biar Mita yang jelaskan, Bu!” tiba-tiba Mita sudah berada di depan pintu, duduk di kursi rodanya. Ibunya mentap Mita sebentar, lalu mengangguk. Beliau mendorong kursi roda Mita sehingga berada di samping Dito.
“Apa kabar, Dit?” tanya Mita. Dito tidak bisa menjawab, dia masih kaget melihat keadaan Mita.Mita menyadari itu dan tersenyum sedih. “Waktu aku liburan, ada anak kecil mainan di tengah jalan. Dan ada mobil mau lewat, jadi..” Mita nggak menyelesaikan kalimatnya, dan mengangkat bahu.
Ah, Dito jadi sedikit kesal sendiri, kenapa gadis itu terlalu baik?
“Setiap kali aku lihat kamu, aku selalu inget tentang menari. Itu hal yang nggak enak, Dit. Aku udah nggak bisa nari lagi. Aku udah bisa menerima kenyataan aku nggak bisa berjalan lagi, tapi soal menari? Aku nggak bisa!” Mita berkata dengan suara bergetar. Dito tersentak, dia langsung menatap Mita, “Kalo kamu mau, aku akan lepasin nari juga!” Mita menggeleng. “Apa kata Mama kamu nanti?”
Mama Dito, orang yang paling menentang Dito pada awalnya untuk mengembangkan hip-hopnya. Tapi sekarang beliau cukup mendukung, sangat mendukung malah. Apa kata Mama Dito nanti kalau sekarang Dito mau berhenti?
Masalah berikutnya adalah, semua itu gara-gara Mita. Dan memang dari awal beliau udah nggak suka sama Mita. Namun sepertinya beliau agak melupakan hal itu saat dance crew Dito mulai berkembang. Sekarang, kalau putranya mau melepaskan hasil kerja kerasnya, apa yang dikatakannya nanti? Apalagi hal itu karena Mita.
Dito tertunduk dan berkata, “Tapi kalau gitu, kita nggak bisa dekat lagi. Aku akan selalu membuat kamu sedih.” Lalu tiba-tiba Dito berlutut di samping Mita, memohon, “Kasih aku kesempatan, Mit. Aku akan berusaha bikin kamu seneng. Aku akan menari buat kamu, selalu bantu kamu.” Mita menatap jauh, “Aku nggak tahu, Dit. Ini cukup berat buat aku. Benar-benar, melihat kamu membuat aku sedih. Apalagi sekarang akususah ngapa-ngapain. Aku masih pengen kuliah, Dit. Pengen nari. Tapi mungkin…” Mita meraih tangan Dito, “Aku lebih sedih kalo nggak melihat kamu.”
Dito tersenyum, lega dan senang. “Makasih, Mit. Besok kamu mau pergi-pergi nggak? Aku anterin.” Mita tersenyum dengan expresi bersalah, “Sori, Dit, tapi sekarang karena keadaan aku kaya gini, ngg..” “Oh, itu. Nggak masalah, Papa udah minjemin mobil sekarang, jadi kamu tetep bisa aku anter.” Kata Dito. “Oke, tapi jangan sampe ganggu kuliah ya.”
-*^^*-
Mita sering ikut Dito latihan sama dance crewnya, kadang-kadang nemenin mereka waktu ada lomba atau job. Tapi Mita belum pernah datang lagi ke universitas tempat dia dulu hampir kuliah. Sekarang Mita sudah kuliah juga di universitas yang berbeda, tapi lewat online, di mana dia nggak harus datang ke kelas langsung.
“Mit, kapan-kapan liat-liat kampus ya!” ajak Dito suatu hari. Mita mengangguk. Sudah dari dulu dia ingin melihat bagian dalam universitas itu secara langsung, melihat studio-studio yang ada dan juga mini teater yang dikhususkan untuk mahasiswa di sana. “Tapi memangnya sembarang orang boleh masuk?” tanya Mita. “Boleh kok, kan kamu sama aku. Jadi tenang aja,” kata Dito, dan benar, sekarang Dito mengajak Mita ke kampusnya. Kebetulan hari itu dia nggak ada jadwal kuliah, jadi bisa keliling-keliling sampai beberapa lama.
Sejak dari halaman, beberapa orang melihat Dito dan Mita. Terutama Mita, yang duduk di kursi roda. Saat Dito dan Mita berkeliling, beberapa orang yang mengenal Dito menyapanya, lalu menatap Mita dengan pandangan iba. Beberapa gadis yang kelihatannya menggumi ketampanan Dito, jadi memandang Dito dengan pandangan aneh, seakan menyatakan, ceweknya cuma bisa duduk di kursi roda? Lebih baik sama aku!
Mita menyadari pandangan itu, tapi tetap menunduk dan berusaha tidak mempedulikan semua itu.Dia berusaha fokus pada perasaan senang yang didapatkannya dari melihat-lihat seluruh fasilitas di kampus ini. Sesekali Dito akan menepuk bahu Mita perlahan, untuk memberitahu Mita kalau dia memang tidak perlu mempedulikan mereka semua. Menyatakan kalau Mita lebih penting dari semua pendapat itu.
Setelah beberapa saat, sampailah mereka di sini, di mini teater. Mita memandang panggung dengan berdecak kagum. Teater itu kebetulan sedang dipakai oleh jurusan Musik, sehingga suasana benar-benar dihidupkan. Suara dalam mini teater itu sangat mengagumkan, pencahayaannya juga terlihat professional. Rasanya, walaupun itu hanya mini teater, tidak akan ada orang yang akan menolak kesempatan untuk tampil di atas sana. Walaupun memang hanya mahasiswa tahap akhir di universitas itu dan yang menunjukkan kemajuan pesat yang bisa berada di atas sana.
Sayang, sekarang aku sudah tidak bisa menari. Kesempatanku untuk berada di atas sana sudah hilang, batin Mita. Tapi lalu Dito membisikkan kata-kata ini pada Mita, “Nggak lama lagi, aku akan berada di atas sana, dan ingat, semua itu karena kamu. Aku akan ada di atas sana, menari untuk kamu, atas nama kamu.”
Hari itu mereka lanjutkan dengan pergi ke sebuah tempat. Tapi Mita nggak tahu persis mereka akan pergi ke mana. “Rahasia!” kata Dito. Tapi setelah 1 jam perjalanan, Mita tahu juga akhirnya. Sekarang mereka berada di sebuah pantai. Memang nggak sebagus pantai-pantai di Bali, suasananya tetap cukup menyenangkan. Untung matahari belum mau kembali beristirahat, sehingga mereka masih punya banyak waktu di sana.
Mereka duduk-duduk di mobil untuk beberapa lama, dan sekarang matahari sudah senja. “Kayaknya enak ya, kalau bisa duduk di sana,” kata Mita sambil menunjuk sebuah tempat yang benar-benar dekat ke air. Tapi lalu pandangannya menerawang, dan Mita juga tidak berusaha membuka pintu atau apapun, seperti sadar kalau dia tidak bisa ke sana.
Dito terdiam, berpikir sejenak. Mobil seperi yang dinaikinya sekarag ini tidak boleh berjalan lebih dekat lagi kepantai. Sedangkan kursi roda yang dipakai Mita bukanlah kursi roda khusus yang bisa digunakan di atas pasir. Jadi nggak ada cara yang bisa dipakai untuk bisa mengajak Mita ke tempat yang tadi dia tunjuk. Tapi dia sangat ingin mengajak Mita ke tempat itu, dia ingin membuat Mita senang. Harus bagaimana?
Lalu tiba-tiba, Dito melepaskan sabuk pengaman yang sedari tadi belum dilepasnya. Dia keluar dari mobil dan memutar ke sisi sebelah kiri, dan membuka pintu. “Mau ngapain?” tanya Mita, bingung. “Katanya mau ke sana?” balas Dito sambil tersenyum polos. “Tapi caranya gimana? Kursi rodaku kan nggak bisa,” Mita melirik kursi rodanya yang ada di bagian belakang mobil. “Tenang aja, tetep bisa kok,” Dito tetap santai, lalu tiba-tiba dan dengan gerakan yang cepat, dia menggendong Mita. “Dito! Apaan sih!” Mita berteriak kaget, tapi Dito tetap dengan wajah polosnya, “Katanya mau ke sana,” kali ini Dito menunjuk dengan gerakan kepalanya.
“Tapi nggak gini juga kali, malu dong diliat orang,” Mita mengingatkan, tapi Dito menggeleng dengan gayasok tegas, “Nggak juga ah. Kan ini tempat umum, bebas mau ngapain, mau malu-maluin juga nggak papa kok.” Mita tersenyum, dan mengangguk kecil.
Dito menggendong Mita, sampai ke tempat yang tadi ditunjuk. Mita nggak bisa menyangkal, dia memang malu, tapi satu perasaan lain yang muncul. Rasa nyaman. Rasa aman. Itulah yang Mita rasakan saat berada di gendongan Dito tadi.
Tiba-tiba saja Mita merasa, terlalu merepotkan. Dito sudah terlalu banyak membantunya. Dan sudah terlalu banyak pandangan mencemooh yang dilemparkan orang-orang pada Dito. Semua karena dirinya.
Namun tepat di saat itu, sebuah tangan melingkar di bahu Mita. “Nggak papa. Nggak ada yang ngerepotin. Selama kamu seneng, itu bikin aku seneng banget. Dan selama aku masih bisa membantu kamu, aku akan selalu melakukannya.” Sekali lagi, Dito membaca pikiran Mita.
Sekarang, sambil menatap matahari yang semakin menghilang, Mita tidak bisa berhenti menatap orang yang sangat disayanginya dan tidak bisa berhenti mengatakan kalimat ini, I’m lucky to have you in my life.

Monday, March 5, 2012

Lucky 3 ^^ (Part 1)

INI DIA :D:D
sebenernya pengen diupload nanti akhir bulan, tapiii gak tahan :P
yaa udah,
ini dia LUCKY 3 ^^


Lucky 3

"Iya, nggak tahu kenapa pengen denger suara kamu, maaf ya, padahal kan udah malem banget," Mita memimta maaf. "Nggak papa lah, aku juga seneng denger suara kamu," kata Dito sambil tersenyum, walaupun dia tahu Mita nggak bisa melihat senyumnya itu dari ujung telepon. Sebenarnya Dito curiga, ada sesuatu yang salah dari suara Mita, tapi Mita nggak bilang apa-apa, dia cuma bilang dia rindu mendengarkan suara Dito. Dan Dito juga rindu mendengar suara gadis itu.
Dito dan Mita, selama seminggu ini mereka lagi dipisahkan oleh liburan keluarga Mita ke Jakarta. Sudah hampir seminggu keduanya hanya bisa berkomunikasi, lewat pesan singkat kalo sinyal lagi eror, dan BBM kalo sinyal lagi bersahabat. Nggak sempat teleponan, karena di Jakarta sendiri Mita banyak acara keluarga, sedangkan Dito, sibuk latihan dengan crew hip-hopnya, berlatih untuk sebuah lomba.


"Ya udah, Dit. Tidur deh, udah malem," kata Mita pada akhirnya. Walaupun Dito sekali lagi menyadari kalo Mita belum puas, tapi Mita juga harus beristirahat, kan? "Iya, habis ini kamu juga tidur ya, sayang? Good night."

-*^^*-



Udah seminggu ini Dito nggak mendengar kabar apa-apa dari Mita, sejak mereka ngobrol lewat telepon malam itu. Benar-benar aneh, nggak biasanya mereka putus hubungan seperti itu, walaupun lagi liburan. Nggak ada sms, BBM, telepon, e-mail, tweet, DM twitte, wall FB, message FB, apapun. Dito juga nggak bisa menghubungi Mita melalui semuanya itu. BBM pending, sms pending, telepon nggak diangkat, di twittet dan facebook nggak ada respon apa-apa.
Dan bukannya Mita bilang, hari ini seharusnya dia sudah pulang? Tapi di cari ke rumahnya, katanya belum pulang. Ada yang aneh, ada sesuatu yang sangat aneh. Semua sahabat-sahabat Mita di SMA juga nggak tahu apa-apa. Dito khawatir banget, dia jadi nggak konsen sama sekali waktu latihan. Gerakan di otaknya hilang semua, irama yang selama ini selalu dipatuhinya, sekarang hanya masuk telinga kiri keluar telinga kanan.
Sangking khawatir, Dito sempat ada keinginan untuk menyusul Mita ke Jakarta. Rencana sudah di susun, besok kalau belum ada berita dari Mita, dia akan berangkat ke Jakarta. Dia memang nggak punya alamat pasti dari keluarga Mita yang di Jakarta itu, tapi dia tahu kompleks perumahannya. Tapi lalu, telepon dari Mita datang. 



-*^^*-



"Dit?" Mita langsung menyapa begitu Dito mengangkat telepon. "Mit, kamu nggak papa kan?" firasat Dito sudah seminggu ini nggak enak, eh sekarang Mita menelepon dia. Dan bukan perasaan lega yang membanjiri dirinya. Ada apa ini?
"Kenapa tanya gitu?" tanya Mita balik. "Soalnya aku BBM--" "Aku nggak apa-apa kok, Dit. Maaf, HPku rusak kemarin, tapi sekarang udah bener kok." Mita memotong. Dia mengela nafas sejenak. "Apa kabar kamu Dit?" tanya Mita lagi, agak aneh mengingat Mita nggak biasanya memotong pembicaraan dan berkata-kata tegas begini. Dito bener-bener bengong di ujung telepon, Mita aneh banget.
"Sebenernya ada apa sih, Mit?" Dito bukannya menjawab pertanyaan Mita. "Nggg.. nggak ada apa-apa kok. Kamu baik-baik aja kan, Dit?" Ya ampun, kata-kata Mita barusan sama-sekali nggak nyambung, tapi Dito cuma terdiam, masih bingung, dan menjawab, "Iya, aku baik-baik aja."
Lalu keanehan berikutnya muncul, belum sempat Dito ganti menanyakan keadaan Mita, Mita berkata, "Bagus deh. Gitu dulu ya, Dit." dan, telepon ditutup.



-*^^*-



"Bu, tekadku sudah bulat, tapi waktu aku mendengar suaranya, aku tahu aku nggak bisa," kata Mia, sambil menghapus setetes air mata di pipinya.



-*^^*-



"Sya, kamu beneran nggak tau kabar apa-apa tentang Mita?" Dito bertanya pada Gresya, sahabat Mita. Saat ini mereka ada di depan kos'nya Gresya, Dito bertanya pada Gresya karena dialah sahabat terekat Mita. "Iya, Dit. Dia nggak ngehubungin aku selama libur ini, emang kenapa sih, dari kemarim tanya gitu terus?" Dito mengehela nafas kecewa, "Aku lost contact sama dia seminggu ini, Sya." Gresya tersentak kaget. "Kok bisa?"

Dito menceritakan semuanya, dari awal liburan Mita, telepon di tengah malam, seminggu yang membingungkan, telepon yang mengejutkan dan aneh, serta 2 hari ini, di mana dia lost contact sama Mita, lagi.

Greysa cuma tercengang mendengar penuturan itu. "Jangan-jangan Mita marah ke kamu?" tanya Gresya hati-hati, tapi Dito menggeleng, "Kalaupun dia marah, dia tetap akan pulang ke sini kan? Paling nggak papa atau mamanya. Mereka nggak pindah ke Jakarta, kan?"
Gresya berpikir sejenak, lalu berkata, "Kamu pacarnya, sering kali ada hal-hal yang nggak diceritakan seorang cewek ke sahabatnya tapi di ceritakan ke pacarnya kalau nggak bisa diceritakan ke sembarang orang. Aku sahabatnya, ada beberapa hal yang seorang cewek nggak akan kasih tahu ke pacarnya, tapi justru ke sahabatnya dia kasih tahu. Kalo kamu dan aku nggak tahu apa-apa, padahal hal ini aneh banget, berarti mungkin Mita kenapa-kenapa, dan hal itu terlalu berat sampai dia nggak cerita ke 2 orang terdekatnya."

Dito tertunduk lesu di kursinya, mengiyakan saja akan adanya kemungkinan hal itu benar. Dan mengiyakan kebenaran kemungkinan itu berarti juga mungkin untuk sementara ini dia nggak boleh berhubungan dengan orang yang paling dicintainya itu.



-*^^*-



Kejutan berikutnya datang saat Dito mulai masuk kuliah. Seharusnya dia masuk di jurusan yang sama di universitas yang sama dengan Mita. Tentu saja Mita nggak datang, dia belum pulang, Mita udah bilang ke Dito. Tapi yang Dito nggak mengerti adalah, menurut TU universitas itu, Mita sudah mengundurkan diri, nggak jadi kuliah di sana.

"Apa? Nggak mungkin, Pak. Namanya benar Mita Utomo dari jurusan seni tari?" Dito bertanya pada bapak TU itu. Tadi di kelas dibacakan nama-nama siswa dan nama Mita nggak dibacakan, dan sekarang bapak itu bilang Mita mengundurkan diri? "Iya, sudah saya cek lagi, benar Mita Utomo dari jurusan seni tari." Dito menggeleng, "Nggak mungkin pak, coba di cek lagi pak." Agak kesal, bapak ini bertanya, "Anda ini siapa ya? Kenapa anda bisa yakin sekali kalau Mita tidak mengundurkan diri?" Dito menjawab lirih, "Karena dia yang selalu mengajak saya masuk jurusan ini."



-*^^*-



Sudah sebulan Mita selalu menghubungi Dito dengan cara yang sama. Lewat surat. Agak kuno, tapi hal itu jauh lebih mending dari nggak sama sekali, begitu menurut Dito. Nggak berhubungan dengan Mita sudah membuat Dito kacau, lalu tiba-tiba Mita mengundurkan diri, dan sudah berminggu-minggu Mita nggak pulang. Dan sampai hari itu Mita nggak pernah bisa ditelepon, di sms, dll. Cuma bisa dijangkau lewat surat, yang sbenernya membuat Dito tambah frustasi, karena dengan begitu, pertanyaan seperti, "Ada apa sih?", "Kamu kapan balik?”, “Kapan bisa dihubungi?” atau “Kamu ngundurin diri dari kuliah?” bisa dihindari Mita dengan mudah. Dan ya, surat itu pasti Mita yang menulis, karena Dito hafal tulisan Mita.

Tapi hari ini surat yang diterima Dito benar-benar berbeda. Kali ini surat itu pendek, berisi ‘ijin’ untuk menghubungi Mita. Katanya Mita akan menjelaskan semuanya, atau paling tidak, memberi tahu sesuatu.

Dito,
Aku harus menjelaskan sesuatu,
Telepon aku di nomor di bawah surat ini, Hari Senin besok.
Kutunggu.”

Berbagai pikiran sudah memenuhi otak Dito. Tapi Dito berusaha mengenyahkan semuanya itu dan menanti hari Senin dengan sabar.
Hari itu tiba, dan dengan tangan gemeterar Dito menekan nomor yang tertera di surat dari Mita.

-*^^*-

Satu deringan terdengar.
Mita menghela nafas, dia tahu sudah saatnya dia memberi tahu hal ini pada Dito.

Dua deringan terdengar,
Mita meletakkan tangannya di atas gagang telepon.

Tiga deringan terdengar,
“Halo?” Mita mengangkat telepon. “Mita?” ah, suara Dito sangat berbeda, terdengar, takut dan bingung.
“Iya, ini aku, Dit.” Mita berusaha menjaga agar suaranya tetap terdengar kuat. “Mit, kenapa sih kita nggak bisa berhubungan kayak biasa? Kamu kenapa, Mit?”
“Maafin aku Dit, nggak cerita-cerita dulu sebelumnya. Tapi sekarang aku pindah ke Jakarta.”
Mita langsung mendengar suara barang terjatuh, atau lebih tepatnya dilempar, lalu jatuh. “Dit?”
Tidak ada jawaban, “DITO?--” “Kenapa kamu nggak kasih tahu dulu sih, Mit? Terus kita gimana?” tanya Dito, dengan suara yang keras, setengah marah, tapi juga sedih.
“Itulah, Dit. Aku takut kita nggak bisa. Maafkan aku,” kata Mita dengan suara sangat menyesal. “Aku nggak tahu kapan aku akan pulang, bisa jadi aku nggak akan pulang lagi, jadi kayaknya ini yang terbaik untuk kita.”

“Mita, kenapa kamu nggak ngasih tahu dulu sih? Kita kan nggak perlu diem-dieman gini, kita bisa bicarain baik-baik—“ “Diem-dieman gimana maksudnya?” potong Mita. “Nggak kontak selama beberapa minggu, Mit. Iya kita emang komunikasi, tapi cuma lewat surat! Dan lewat surat aku nggak tahu ekspresi kamu, lebih tepatnya nggak tahu apa-apa tentang kamu! Tiba-tiba kamu juga ngundurin diri dari kuliah,” Dito menjelaskan.“Iya, aku minta maaf, belum ada kesempatan untuk menjelaskan semuanya. Terimakasih, Dit. Aku harap mulai sekarang kita bisa menjadi teman yang baik.” Suara Mita mulai bergetar. “Mit, kalo kamu pulang ke Semarang suatu hari nanti, kamu akan lihat dance crewku jadi terkenal dan hebat. Dan dengan cara itu aku mau selalu ingat kamu, ingat bagaimana kamu menginspirasi aku, dan menyimpan kamu dalam hatiku, walaupun kita harus punya ending seperti ini.” Lalu setelah diam beberapa detik, telepon di matikan dari pihak Mita.

Tangispun pecah di kamar Mita. Sejak hari itu, keduanya juga sama sekali lost contact, benar-benar tidak berhubungan.