Tuesday, January 17, 2012

Lucky 2 (part2)

Here's the 2nd part :)


-*^^*-




“Pagi Val sayang, udah di makan cake nya?” tanya Aldi begitu Val duduk manis di sampingnya. “Pagi, udah kok. Enak deh. Makasih, ya,” jawab Valeri, yang lalu bertanya, “Tapi, kenapa harus repot-repot gitu sih?” Aldi tersenyum, “Kan bikin kamu seneng.”
Valeri tertawa singkat. Lalu di saat itulah dia baru benar-benar memperhatikan wajah Aldi, pucat. “Lho, kamu sakit, Di?” Aldi mengangkat alis, kaget Valeri menyadari hal itu. “Cuma agak demam dikit. Nggak papa kok,” kata Aldi. “Masa?” Valeri bertanya nggak percaya. Tapi Aldi mengangguk, membuat Valeri nggak bertanya apa-apa lagi.
-*^^*-
“Di? Lo nggak papa?” Henita, ketua kelasnya Aldi kaget waktu lihat Aldi menelungkupkan kepalanya di meja. Biasanya, Aldi pasti lagi megang HP, sms Valeri, atau hilang nggak tau kemana. Yang pasti nggak di kelas dan nggak duduk-duduk aja, apalagi sampe kaya gini.
“Gue ke UKS ya, Hen.” Aldi membalas kata-kata Henita. “Lo nggak pulang sekalian? Nanggung, udah jam terakhir lho.” Aldi berikir sebentar, dan 5 detik kemudian dia mengangguk. “Gue ijin dulu deh.”
Setelah ijin keluar, diapun segera melangkahkan kaki ke parkiran, dan pulang. Sampai di rumah, barulah dia inget, “Valeri!”
Valeri berdiri di gerbang, sendirian. Kenapa nggak jemput-jemput nih? Batinnya. “Hei, kok nggak pulang, Val?” Rian tiba-tiba sudah berdiri di sampingnya. “Iya nih, gue belum di jemput. Nah elo sendiri, kenapa belum pulang?” balas Valeri. Jawaban Rian membekukan tubuh Valeri, “Soalnya elo belum pulang.”
Untunglah suasana kaku itu berhasil dicairkan oleh dering HP Valeri. “Halo?”
“Val, aku nggak bisa jemput.” Suara pelan Aldi terdengar di ujung sana. “Ehm, sakit beneran ya?” tanya Valeri. “Iya nih. Maaf ya, baru kasih tahu sekarang.” Jawab Aldi. “Iya nggak papa. Udah istirahat aja,” kata Valeri. “Nah kamu pulang sama siapa?” tanya Aldi, berharap bukan satu nama itu yang akan terdengar. “Gue pulang sendiri lah!” jawab Valeri, tapi saat Valeri mengatakan itu, Rian langsung tersentak dan dengan isyarat tangan mengatakan, dia mau nganter Valeri. “Eh, nggak, gue dianterin Rian.”
Seketika itu juga, Aldi bangkit dari berbaringnya di rumah. “Aku jemput aja, Val!” Valeri langsung gelagapan, dan berbisik, “Jangan! Kan kamu lagi sakit! Udah nggak papa, aku pulang sama Rian!” “Nggak! Udah tunggu aja!” Aldi membantah dengan agak keras, tapi Valeri bisa jadi lebih keras dari Aldi, “KENAPA SIH? GUE BILANG NGGAK YA NGGAK! LO ISTIRAHAT AJA! GUE BISA PULANG SENDIRI!” lalu, telepon dimatikan.
“Sepupu lo kenapa, Val? Sakit?” tanya Rian dengan muka super tenang. “Iya, sakit.” Jawab Valeri, sambil mengontrol emosi yang sempat naik habis ‘marah’ sama Aldi. “Ya udah gue anterin ya, Val?” Rian bertanya lembut. “Eh, nggak usah deh. Gue pulang sendiri aja,” Valeri buru-buru menjawab, tapi Rian menggeleng, “Nggak ngerepotin kok, kalo itu yang lo takutin.” Bukan itu yang gue takutin, Rian! Desah Valeri dalam hati, tapi rasanya Valeri nggak ada pilihan lain. Temen-temennya yang lain udah pada di mall, dan mau naik taksi juga nggak ada yang lewat. “Ya udah deh, makasih ya,” Valeri akhirnya mengiyakan tawaran Rian. Rian sendiri tersenyum dan segera mengajak Valeri menuju ke parkiran mobil.
Aldi, di rumahnya jadi panik. Bukan panik karena Valeri marah. Dia tahu Valeri cuma kelewat khawatir. Tapi kenyataan bahwa Valeri lagi ada bersama Rian, itu yang jadi masalahnya. Soalnya, beberapa hari yang lalu, dia baru aja ketemu sama orang bernama Rian itu. Makanya, dia langsung mengambil helm, menaiki motornya, berusaha meredam ketakutannya dengan secepat mungkin sampai di rumah Valeri.
“Jadi elo yang namanya Rian?” tanya Aldi sambil mengamati cowok yang berada di depannya itu. “Iya, gue Rian. Mmm maaf, lo siapa ya? Dari mana lo tau tentang gue?” jawab Rian. Aldi berdehem dan menggunakan satu istilah yang selalu menyakiti hatinya. “Gue Aldi, sepupunya Valeri.”
“Oo, iya iya. Kakak ada apa nyari saya?” tanya Rian dengan lebih sopan, setelah tahu lawan bicaranya lebih tua dari dirinya.
“Lo suka yah sama Val?” tanya Aldi langsung to-the-point, dengan nada datar dan wajah tanpa ekspresi. Lucunya, kalimat itu malah membuat senyum mengembang di wajah Rian..”Iya, saya suka sama Valeri, Kak,” jawab Rian jujur. “Nggak usah formal gitu, nggak papa kok,” Aldi mengkoreksi gaya bicara Rian. “Lo sayang sama Valeri?” tanya Rian lagi. “Iya, Kak. Saya,-ehm gue, sayang sama Valeri. Yah, walau kami baru kenal, tapi nggak tahu kenapa saya langsung suka sama dia, Kak. Bahkan bisa dibilang, cinta,” sekali lagi Rian berkata jujur.
Aldi cuma mengangguk-angguk, terhanyut dalam pikirannya. “Kak, menurut lo kira-kira Valeri suka sama gue?” tanya Rian malu-malu. Aldi, sayangnya, cuma mengangkat bahu. Karena walaupun dia tahu saat ini Valeri adalah miliknya, dia nggak tahu apakah dihati Valeri ada cowok lain ini atau nggak.
“Berarti Kakak belum tahu ya, kira-kira kalo gue nembak Valeri, dia terima atau enggak?”
Sekali lagi, Aldi mengangkat bahu.
“Mas? Kok melamun? Apa karena mas’e sakit? Tiduran di kamar tamu mau, mas?” tanya Bik Sum dengan logat jawanya. Awalnya Aldi menggeleng, tapi lalu mengangguk mengingat nggak mungkin dia tiduran di sofa mahal ini.
Sambil berbaring, Aldi menatap jam tangan di pergelangan tangan kirinya. Kenapa nggak pulang-pulang sih kamu, Val? Aldi semakin panik. Dia bukannya takut akan terjadi hal-hal buruk sama Valeri, dia justru takut dalam waktu beberapa jam ini, hati Valeri akan berpindah, menjadi milik Rian.
-*^^*-
“Val, gue mau tanya sesuatu sama lo. Tapi jangan marah, ya?” kata Rian, justru setelah mereka berada di depan rumah Valeri. “Tanya apaan?” Valeri balik bertanya, berpikir paling juga soal keluarganya. Tapi ternyata apa yang tanyakan Rian nggak berkaitan sama sekali dengan keluarganya. Hanya berkaitan pada Valeri.
“Lo mau jadi cewek gue nggak?”
Senyum Valeri langsung menghilang. Dia menunduk berbisik lirih, “Sori, gue gak bisa.” Lalu Valeri mengangkat wajahnya dan memandang keluar jendela sejenak, sebelum akhirnya mengambil bawaannya. “Makasih ya,” kata Valeri, ingin segera keluar dari mobil dan suasana yang menurutnya sangat mencekam ini.
Tapi Rian memegang pergelangan tangannya. “Kasi gue kesempatan, Val.” Tapi Valeri kembali menggeleng. “Rian maafin gue, tapi gue nggak bisa.”
“Kenapa? Orang tua lo nggak ngijinin? Gue bisa nunggu, kok!” pinta Rian. “Tolong, Val. Gue nggak bakal nyakitin lo, gue bakal selalu jagain elo, gue sayang sama lo!”
Valeri, yang tadinya berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Rian, sekarang diam. “Gue nggak suka nyakitin orang, tapi maaf, gue nggak bisa.” Valeri berkata pelan tapi tegas. “Kenapa, Val?” tanya Rian, lalu dia melanjutkan, “Oke, nggak papa kok kalo lo nggak bisa, tapi tolong kasih gue alesan. Kenapa?"
Valerri menimbang-nimbang sejenak, lalu berkata, “Gue udah punya pacar.”
Rian langsung terbelalak. “Apa? Lo bilang ke temen-temenelo nggak punya pacar.” Wajahnya terlihat marah, kecewa. “Gue Cuma berusaha ngelindungi dia. Gue tau dia nggak suka kumpul sama orang-orang kaya temen kita di sekolah. Lagian gue belum bisa menganggap mereka temen gue, yang perlu tau semua tentang privasi gue.”
Rian tertegun. “Lo bener-bener orang yang baik, Val.” Valeri Cuma tersenyum, ”Gue sayang sama lo, tapi Cuma sebatas temen. Dan setelah hari ini pun, kita tetep temenan.” Valeri berhenti sebentar, lalu berkata, “Kakak sepupu gue.” Rian menatap Valeri. “Elo pacaran sama kakak sepupu sendiri??” tanyanya dengan tatapan agak horror. Valeri tertawa kecil, “Ya enggak lah. Dia bukan kakak sepupu gue, dia pacar gue.”
Rian tersenyum singkat, paling nggak dia tahu pacar Valeri memang sayang sama dia berdasarkan kemarin waktu Rian ketemu dia.
“Pokoknya, apapun yang lo lakukan, jangan sakitin Valeri!”
Walaupun ada rasa sedih di hatinya, Rian nggak menyesal Valeri nggak menerimanya. “Makasih Val, buat kesempatan untuk jadi temen lo.”
-*^^*-
Begitu Valeri masuk ke rumah, Bik Sum langsung berjalan kecil ke arahnya. “Non, ada Mas Aldi di kamar tamu.” Seketika itu juga, Valeri langsung melepaskan tasnya dan berlari menaiki anak tangga, naik ke kamar tamu. Begitu dia membuka pintunya, sesosok yang sangat di sayanginya terbaring di atas kasur double-bed itu. Valeri tersenyum sedih, Aldi terlihat tenang, tapi pucat. Valeri menyentuh lengan Aldi perlahan, tanpa ingin membangunkan Aldi dari istirahatnya. “Bik! Ambilin air hangat dan handuk!”
-*^^*-
Aldi merasakan ada handuk hangat di kepalanya. Baru setelah dia membuka mata, dia menyadari kalo Valeri yang meletakkan handuk itu. “Udah enakan?” tanya Valeri. Aldi mengangguk, lalu berusaha untuk duduk sambil mengambil handuk dari kepalanya. “Rian gimana?” tanya Aldi. Valeri langsung menegang, tapi tetap tenang. “Tadi dia nembak aku.” Aldi langsung lemes lagi, tapi dia tahu Rian memang akan melakukannya. “Terus gimana?”
Valeri malah menatap Aldi bingung, “Apanya yang gimana? Ya pasti aku bilang enggak lah! Aldi gimana sih?” Aldi menengok ke arah Valeri, “Kamu nolak?” Valeri jadi gemas. “Kamu itu siapa?” Aldi mengerutkan alisnya. “Nggak mungkin lah aku punya pacar 2, Aldi! Lagian aku nggak suka sama dia. Aku cuma nyaman deket sama dia sebagai temen.”
Tiba-tiba rasa lega membanjiri tubuh Aldi, dan dia tersenyum. Tapi Valeri malah justru tambah gemes. “Kamu kira aku suka sama Rian? Aldi kamu kenapa sih?? Kamu kira aku cewek apaan, nggak tau diri banget, udah punya pacar kaya kmu masih kurang—“ Valeri nggak menyelesaikan kata-katanya karena Aldi sudah membawanya dalam pelukannya. “Aku sayang sama kamu, Val. Aku nggak mau kamu pergi,” kata Aldi, berbisik tepat di sampping telinga Valeri. “Jadi itu sebabnya kamu ngasih barang macem-macem, supanya aku nggak terkecoh sama Rian? Aldi, nggak perlu kaya gitu. Aku juga sayang banget sama kamu, nggak bakal berbuat kaya gitu.”
Aldi tersenyum, terutama saat Valeri memberi satu ciuman di pipi Aldi, membuat Aldi tidak bisa menahan dirinya untuk berpikir, I’m lucky to have you in my life.

Lucky 2 (part1)

Cerita tentang "Je suis chanceux de vous avoir dans ma vie.."
ada 2 part, and here's the 1st part :)

-*^^*-

LUCKY 2
“Gimana sekolah barunya?” Aldi langsung bertanya begitu Valeri masuk ke mobil putih itu. “Bikin bete! Temen-temennya nggak enak,” keluh Valeri. “Nggak enak gimana?” tanya Aldi sambil tersenyum. Masa baru pertama sekolah udah langsung nge-judge gitu sih?
“Waktu denger nama belakangku yang nggak tahu kenapa disebutin sama gurunya, semua langsung sadar kalo aku anaknya Papa, dan semua pengen ketemu Papa. Mereka semua langsung aja deket-deket, nempel, sok kenal, biar ketularan kaya katanya. Coba kalo aku anak jalanan, mana mau mereka temenan sama aku!” Valeri menumpahkan semua uneg-unegnya pada Aldi, yang hanya bisa tertawa pelan. “Maksud kamu, mereka ngeliat harta gitu?”tanya Aldi. Valeri mengangguk.
Aldi nggak menuduh Valeri sok tahu atau semacamnya, untuk langung nge-judge temen-temennya, karena Valeri memang tipe orang yang bisa menentukan sifat orang dari pertemuan pertama dengan orang-orang baru. Di sekolah Aldi sendiri, hal semacem ini nggak terjadi. Mereka semua enak aja temenan, sahabatan, tanpa peduli-peduli banget sama latar belakang masing-masing.
“Di, aku mau ngomong,” Valeri tiba-tiba berkata, berarti penting, karena kalo enggak, dia udah nyeplos aja dari tadi. “Ngomong apa?” Aldi balas bertanya.
“Aku sayang banget sama kamu,” kata Valeri. Aldi tersenyum, “Aku juga sayang banget sama kamu, Val.” Bukan, bukan ini yang mau Valeri katakan. Hal ini cuma menunjukkan kalau yang mau dikatakan Valeri ini penting pake banget.
“Di, boleh nggak aku bilang sama temen-temen di sekolah ini kalo, mmmm,” Valeri nggak melanjutkan kalimatnya. “Kalo apa, Val?” Aldi mendesak, karena dia tahu ini pasti penting buat Valeri.
“Kalo aku nggak punya pacar?”
CIITT! Mobil berhenti tiba-tiba. Klakson dari mobil belakang langsung ramai terdengar, marah. Untungnya jarak antar mobil cukup banyak sehingga nggak sampe tabrakan. Valeri yang menyadari hasil omongannya barusan langsung membeku. “Eh, lupain deh yang barusan aku bilang.” Dan keduanya pun diam, sampai 10 menit kemudian, saat mobil yang lalu melaju dengan kecepatan sangat tinggi ini akhirnya berhenti.
Saat mobil berhenti di depan rumah mewah Valeri, mesin tak langsung dimatikan. Keduanya masih larut dalam pikiran masing-masing. “Kenapa?” suara serak Aldi serasa meremas hati Valeri. “Nggak, lupain aja, Di. Makasih ya, udah nganterin. Mau masuk dulu, nggak?” tanya Valeri, berusaha tenang, tapi Aldi nggak mendengarkan. “Kenapa? Aku ada salah? Kamu malu pacaran sama aku?”
Valeri langsung menggeleng kuat-kuat. “Bukan gitu, Di. Udahlah, nggak usah dipikirin lagi. Ya?” Setelah pernyataan barusan, barulah Aldi tersadar dari pikirannya. Itupun nggak sadar sepenuhnya. “Gue nggak turun deh. Gue langsungan ya,” Aldi berkata sambil membuka kunci mobil. Valeri menepuk kepalanya, tahu kalo Aldi sampe kelepasan ngomong lo-gue, berarti dia lagi melamun hebat.
Valeri akhirnya nggak jadi turun. Dia akhirnya menjelaskan juga pada Aldi. Dia nggak tega juga melihat pacarnya kaya gitu. “Aku tahu kamu nggak bakal suka kumpul sama orang-orang kayak mereka. Kalo mereka tahu aku punya pacar, apalagi yang ganteng kaya kamu, pasti mereka nyuruh aku ngajak kamu kalo mereka jalan-jalan,” Valeri berusaha menjelaskan dan menyelipkan candaan kecil, yang akhirnya memunculkan senyum kecil di wajah Aldi. Valeri tahu Aldi punya trauma kecil dengan cewek-cewek model gituan.
“Nggak usah gitu juga kan, tapi. Pasti ada cara lain, kan?” Aldi masih nggak setuju. “Makanya, aku bilang lupain aja, Aldi,” Valeri berusaha menghilangkan pikiran itu dari otak Aldi.
Alasan itu nggak cukup buat Aldi, tapi ada satu alasan lain yang membuat dia mau mengabulkan permintaan ceweknya itu. “Apa itu bikin kamu seneng?”
Valeri tahu kalau Aldi udah bilang gitu, artinya dia terpaksa. Tapi nggak ada gunanya Valeri berbohong dengan, “Nggak seneng, makanya nggak jadi,” karena Aldi nggak akan pecaya. Tapi kenyataannya memang dia nggak senang. Dia hanya ingin melindungi Aldi.
“Nggak, aku nggak seneng. Tapi bikin aku ngerasa lebih, mmm, tenang.” Jawab Valeri, jujur.
Aldi akhirnya mengangguk, “Terserah deh. Terus kamu mau anggep aku apa?” tanyanya agak ketus, bahkan tanpa melihat Valeri. Valeri langsung tersentak. “Nggak akan ada yang berubah, Aldi. Cuma di depan temen-temen sekolahku aja.” Aldi menghela nafas berat dan akhirnya menatap Valeri, “Kamu bilang ke mereka, aku siapanya kamu? Kan tiap pagi dan sore aku anter dan jemput kamu. Nggak mungkin mereka nggak lihat aku, dan mereka pasti tanya, apalagi kalo mereka lihat aku ganteng.”
Valeri tertawa kecil. “Aku panggil kamu kakak sepupu ganteng kalo gitu.”
Aldi tersenyum dan hanya bisa ngikut kata ceweknya. “Ya udah deh kalo gitu.”
-*^^*-
Awalnya semua berjalan menyenangkan. Valeri menertawakan perasaan cemburu kecilnya saat semua temen-temennya minta dikenalin ‘kakak sepupunya’ yang ganteng itu. Tapi memang Valeri benar, Aldi jadi ngerasa terlindungi banget dari mereka yang super centil dan gila harta.
Tapi ada sesuatu berbeda lambat laun yang Aldi rasakan. Ada satu nama yang selalu di sebut-sebut dalam tiap percakapan mereka sekarang.
Namanya Rian. Menurut Valeri, dia adalah satu-satunya temen sekelasnya yang bisa menganggap dia sebagai temen beneran, bukan sebagai gadis kaya yang wajib dijadikan teman, dan bank.
Mereka jadi agak dekat, karena di sekolah, Valeri jadi sering ngobrol sama Rian. Dan hampir tiap pulang sekolah, Valeri menceritakannya ke Aldi. Mau nggak mau, Aldi merasa sedikit jealous. Membayangkan kenapa nggak dirinya aja yang ada di posisi Rian. Tapi nggak mungkin, karena mereka beda sekolah dan beda level.
Dua bulan ini Valeri terus menceritakan tentang Rian. Aldi berusaha sabar, dengerin aja ceweknya bercerita panjang lebar. Tapi di satu titik, nggak tahan lagi. Masa’ pacarnya lebih banyak ngomongin tentang orang lain.
“Di, hari ini, Rian..” “Nggak bisa apa, sehari ajak nggak ngomongin dia? 2 bulan, pasti kamu ngomongin Rian ini lah, Rian itu lah. ” Kata-kata Valeri yang terpotong nggak diselesaikannya. Valeri cepat-cepat minta maaf, “Ya ampun, sori Di! Abis, yang penting di sekolah cuma itu kok, nggak ada yang bisa diomongin lagi.”
“Selama 2 bulan ini, di sekolah cuma dia yang penting ya, Val?” tanya Aldi. Aduh, Aldi salah ngerti! Valeri cepat-cepat meluruskan. “Bukan gitu, Aldi. Kamu tahu kok maksudnya.”
“Terus apa maksudnya? Udah habis ini nggak usah ngomongin dia lagi, ya. Omongin apa kek. Pelajaran, atau apa. Jangan dia terus,” pinta Aldi.
“Cemburu nih Aldi?” tanya Valeri sambil tersenyum. “Iya lah! Orang setiap hari kamu ngomonginnya dia melulu,”jawab Aldi. “Iya, iya deh. Maaf ya, Di.”
Untung Aldi cowok yang sabar banget, batin Valeri. Sebenarnya, Valeri sih fine-fine aja kalo dia nggak usah ngomongin Rian lagi. Tapi masalahnya….
“Di, turun dulu, ya?” pinta Valeri saat mereka sudah sampai di depan rumah Valeri. “Iya deh,” jawab Aldi, lalu dia turun dan memutari mobil, membukakan pintu buat Valeri.
“Aldi, aku mau ngomong sesuatu.” Kata Valeri sambil mengajak Aldi berjalan ke taman besar di belakang rumahnya. “Ngomong apa, Val? tanya Aldi, walaupun dia sudah bisa menebak jawabannya.
“Aku sayang sama kamu,” kata Valeri. “Iya, aku juga sayang banget sama kamu,” kata Aldi. Bukan kata-kata ini yang ditebaknya, tapi yang berikut ini. “Tentang Rian, Di.”
Aldi menghempaskan tubuhnya ke bangku panjang yang ada di dekatnya. “Kenapa lagi? Bukannya tadi aku udah bilang ya? Dan kamu udah mengiyakan lho, Val.”
Valeri duduk di samping Aldi, lalu mengeluarkan sesuatu dari tasnya. Sekotak cokelat dibungkus pita merah. “Dari dia. Tapi karena kamu nggak suka aku ngomongin dia, mending kamu bawa aja cokelat ini. Tanda aku minta maaf dan nggak bakal ngomongin dia lagi.”
Aldi menatap cokelat itu. Ada 2 masalah yang dia punya. Satu, cokelat dengan merk kesukaan Valeri, pasti Valeri pengen banget memakannya, tapi Valeri malah memberikannya ke Aldi. Aldi meraih kotak itu dari tangan Valeri dan membukanya. Mengambil sepotong cokelat lalu mengamat-amatinya. “Ihhh pasti kamu sengaja biar aku pengen!” Valeri berkata gemas. Aldi mengarahkan tangannya ke mulutnya, tapi malah gerakan selanjutnya membuat potongan cokelat itu berada tepat di depan Valeri.
Valeri tetap diam. Bingung apa yang sedang dilakukan oleh Aldi. “Mau nggak sih? Kayaknya kamu pengen banget loh.” Valeri tersenyum lalu melahap cokelat dari tangan Aldi. “Enak?” tanya Aldi. Valeri mengangguk, “Iya lah.” Aldi ikut memakan sepotong cokelat, tapi pikirannya melayang ke masalah keduanya. Ngapain sih orang bernama Rian itu ngasih cokelat ke Valeri?? Kalo dia sendiri, kasih cokelat ke cewek ya buat PDKT. Jangan-jangan… “ALDI! Kok ngelamun? Mikirin apa sihh?” Valeri berteriak tepat di samping telinganya. Aldi jadi langsung tersadar. “Apaan sih Valeri teriak-teriak,” Aldi mengusap-usap telinganya. “Udah, ni makan aja nggak papa kok. Aku pulang dulu ya, Val. Ntar kalo aku udah sampe rumah aku sms, oke?” Aldi menyerahkan kotak cokelat itu dan bangkit dari duduknya. Valeri ikut berdiri dan menutup kotak cokelatnya dan mengantar Aldi ke pintu depan. Aldi menggandeng Valeri selama berjalan dari taman ke pintu depan, bahkan sampai ke mobilnya. “Duluan ya, Val!”
-*^^*-
Entah kenapa, sejak hari itu Aldi hampir setiap hari memberikan sesuatu buat Valeri. Bisa berupa barang, yang paling ekstreme berupa ciuman di pipi, dan yang tambah membingungkan adalah, mereka diberikan tanpa alasan apa-apa!
Seperti hari ini, tiba-tiba saja sepotong cheesecake sudah berada di meja makan Valeri saat dia sarapan. Untungnya cheesecake itu masih utuh. Coba kalau Papa ada di rumah, pasti udah di habiskan. Tapi meja makan ini memang selalu kosong, hanya Valeri yang ada di sini, karena Papa dan Mamanya selalu pergi-pegi, kalo nggak ke luar kota ya ke luar negeri. Jadi segala macam cake aman buat Valeri.
“Dari Aldi lagi ya, Bik?” tanya Valeri pada Bik Sum. “Iya Non. Tadi pagi-pagi wes ke sini mas Aldinya.”
Valeri tersenyum, senang tapi seperti biasa, bingung. Nanti tanya ah, waktu Aldi jemput. Walaupun dia tahu, bertanya justru akan membawa dia semakin tersesat alias nggak akan menemuka jawaban, dia tetep berusaha bertanya. Yaahh berusaha nggak ada salahnya kan?
Dia nggak menyadari kalo Aldi sebenarnya lagi berjuang untuk menenangkan hatinya sendiri dengan berusaha ‘PDKT’ juga. Juga? Maksudnya?
Iya,sejak hari itu, Rian juga memberi hadiah lagi buat Valeri. Dari awal Aldi sudah menyadari, kalo Valeri bilang ‘nggak punya pacar’, pastilaha ada satu-dua anak yang ambil langkah untuk menyukai Valeri. Dan inilah konsekuensinyaa. Sekali hadiah dari Rian berupa berupa boneka beruang kecil, dan sekali berupa sekotak cokelat yang lebih besar, sekali berupa sepotong cake, dan sekali berupa ngerjain tugas buat Valeri. Hal ini yang pasti membuat Aldi cemburu berat. Jadi itu sebabnya dia memberikan bermacam-macam cake, cokelat, boneka, bunga, supaya Valeri nggak terpesona banget sama hadiah-hadiah dari Rian.
Valeri sudah meminta keduanya untuk stop. Enak sih, tapi ntar dikira dia cewek matre. Tapi keduanya tetep ngotot. Aldi tetep ‘PDKT’, dan Rian malah semakin sering membawa ini itu buat Valeri.
Suara mobil terdengar dari kejauhan. Valeri langsung menyelesaikan makan cheesecake itu dan berangkat ke sekolah.