Saturday, July 23, 2011

Pemuda di Ujung~

oke agak sedikit aneh..

terinspirasi dari perjalanan ke retreat..
bercerita tentang seorang pemuda yang duduk di ujung bis.. :)

enjoy n COMMENT! :P

------------------------------------------------------------------------------

Pemuda tampan…

Mengapakah wajahmu dipenuhi kesedihan?

Tatapan wajahmu menunjukkan kegundahan hati?

Dan gurat di wajahmu menunjukkan kesusahan?

Pemuda berbaju hitam, tahukah dirimu?

Saat kau pejamkan matamu, dan istirahatkan tubuhmu,

Dunia seolah berubah menjadi tempat yang paling damai,

Tak ada duka dan pedih..

Pemuda tampan,

Pejamkanlah matamu sebentar lagi,

Sebentar lagi, sampai kau benar-benar merasa sungguh damai..

Karena sesungguhnya senyumanmu sungguh menghanyutkan..

Friday, July 15, 2011

Pangeran Mimpi jilid 4

okee jadi ini pangeran mimpi lain. Ha! banyak banget deh pangeran mimpi-pangeran mimpi yang datang mengunjungi mimpi para teman-teman saiia tercinta, yang omong-omong beberapa udah terpisah :((

ini cuma terinspirasi depannya sih, hehe... lanjutannya mengarang :P

semoga suka :)



-------------------------------------------------------------------------------------------------
Seusai ibadah, seorang cowok mendekati Helen. “Len, tar ikut gue jalan-jalan yuk.” Ajak Leo. “Mmm, emang mo ke mana, Yo?” Tanya Helen balik. “Ada aja. Ntar jam 3 gue jemput di rumah lo.” Leo membalas penuh teka-teki. Dia lalu melambaikan tangan, dan berlari keluar, ninggalin Helen yang bingung sendirian.
Sore itu..
Untung aja mama Helen mengijikan Helen buat pergi bareng Leo. Keluarga mereka saling kenal, jadi mama Helen santai saja kalo Helen pergi bersama Leo.

Jam putih di tangan Helen menunjukkan pukul 14.55, tinggal 5 menit sebelum Leo dateng, pikirnya. Dia memilih untuk melanjutkan membaca komik yang dari tadi dia baca. Tapi belum sempat baca banyak, ada suara klakson mobil di depan rumah. “Helen! Itu Leo udah datang!” mama memanggilnya. Helen , yang sebenernya agak males buat pergi ke mana-mana hari ini, memasukkan komik k etas yang sudah tergantung di pundaknya, dan beranjak ke pintu di mana mama menunggunya. “Ma, Helen pergi dulu ya.” Helen mencium pipi mamanya, dan menuju ke mobil. Leo pun keluar dari mobil. “Udah siap nih?” Tanya Leo ke Helen. “Mmm, udah.” Jawabnya singkat. Helen lalu nengok ke mobil, dan agak kaget. “Loh, keluarga lo ikut juga?” “Iya, nggak papa kan?” Leo ngejawab dengan santai. Helen langsung mati gaya. “Mmm, kalo acara keluarga gue nggak usah diajak kali. Kan nggak enak gue ikut-ikutan gini.” “Udah, nggak papa kok! Orang mama yang nyuruh gue ngajak elo.” Helen nggak punya pilihan. “Emang kita mo ke mana, Yo?”
Tepat saat itu, kaca mobil terbuka. Mama Leo mengajak mereka cepat-cepat masuk. Leo langsung berjalan dan membukakan pintu, tanpa menjawab pertanyaannya. Coba kalo nggak ada keluarganya, Helen pasti udah mukul Leo karena nggak jawab pertanyaannya. Tapi dia tetep masuk, dan duduk di sebelah adik perempuan Leo yang masih berumur 4 tahun, namanya Flo. Dan Leo duduk di sisi mobil satunya.

“Halo, Helen. Gimana kabar kamu sama Mama kamu?” mama Leo memulai pembicaraan. “Baik kok, tante.” Helen menjawab sopan. Lalu dia memberanikan diri untuk tanya. “Mm, tante, ini kita mau ke mana ya?”
“Loh, Leo belum kasi tau yah? Kita mau ke Bandung, nyobain restoran punya temennya om. Tapi sebelumnya muter-muter dulu soalnya reservation dapetnya agak malem. Nggak papa kan?” Mama Leo yang ramah menjelaskan. Helen cuma mengangguk.
Sepanjang sekitar 2,5 jam perjalanan, Helen mengamati Flo yang asik main HPnya Leo. Sambil sesekali menjawab pertanyaan yang diajukan Leo, mama atau papa Leo, dan Flo sendiri. Dia juga melihat-lihat mobil-mobil lain yang agak beradu kecepatan di jalan tol ini.

Sebelum bener-bener sampai di Bandung, papa Leo mendapat sms dari si pemilik restoran. Meminta mereka datang lebih awal untuk ngobrol dulu. Akhirnya acara jalan-jalan dibatalkan dan mereka langsung mengarah ke restoran. Sampai di sana, Om Theo, pemilik restoran yang mewah banget ini sudah menunggu bersama istri dan dua putranya. Yang pertama seumuran dengan Leo dan dia. Sedangkan yang kecil lebih muda setahun dari Flo.
Setelah saling menyapa, papa mama Leo langsung di ajak masuk ke ruangan kantor Om Theo. Flo juga diajak masuk untuk main bareng anak bungsu Om Theo. Tapi anak sulung Om Theo, Mozes, mengajak Leo ikut dia ke rumahnya, yang berjarak beberapa rumah dari restoran. Tentu saja Helen juga di ajak oleh Leo.
Di rumahnya, Mozes ternyata naik ke lantai 2, masuk ke kamarnya terus mandi. Sedangkan Leo dan Helen (ternyata) diminta nemenin. Mereka lalu nunggu di bawah. Tapi Leo punya ide yang lebih bagus. Dia tiba-tiba menarik tangan Helen, dari ruang duduk mereka masuk, menuju ke tangga dan naik sekitar 3 tangga. Tangga yang terakhir membawa mereka ke ruangan olah raga besar. Leo, tetep memegang tangan Helen, berjalan ke sebuah pintu yang membuka ke arah balkon.

Begitu pintu dibuka, Helen langsung melihat pemandangan yang indah banget. Halaman belakang rumah ini adalah kebun yang luas banget, ada air mancur kecil, dan ada kolam ikan yang agak besar di sudut. Helen mengadah ke langit, dan rasanya damai banget. Banyak bintang yang terlihat kelap-kelip malam ini. Dan sekarang dia di sini, bersama Leo, yang omong-omong dari tadi ngeliatin Helen terus. Helen nggak bisa ngomong apa-apa dan terus terpaku ngeliatin Leo sambil tersenyum. Tanpa harus bicara-pun, keduanya tahu isi hati masing-masing. Leo pengen buat Helen seneng, dan sekarang Helen udah ngerasa seneng banget. Dia harap selamanya dia bisa ngerasaain perasaan yang dia alamin sekarang ini, saat dia ngeliat ke mata Leo yang juga lagi ngeliat dia.

-*^^*-
Mimpi apa ini? Gue sama Leo? Yang bener aja. Gue nggak deket sama dia. Bahkan sekarang ini kan gue lagi deketnya sama Bobby. Bisa banget ya gue mimpi kayak gini.

Gita..

umm lupa dapet ide ini dari mana.,..
an extremely short story..
agak rough di ending...

tapi semoga suka ^^

-------------------------------------------------------------------------------------------------
“Gita, aku mau ngomong sesuatu ke kamu. Penting. Bisa ketemu sekarang?” SMS dari Nathan rasanya agak beda dari biasanya. Gita, yang lagi nungguin adiknya main, ngerasa nggak ada masalah kalo mereka ketemu di deket-deket rumah Gita aja.
“Nggak papa nih, ninggalin adik kamu?” tanya Nathan waktu dia sampe di rumah Gita. Biasanya, mereka nunggu sampe adik Gita tidur, baru mereka ketemuan. Walaupun ada baby sitter, tapi Gita tetep suka ngejaga adiknya sendiri, dan baby sitter untuk menemani adiknya waktu dia sekolah. “Kalo cuma sebentar sih nggak papa.” Gita ngejawab sambil tersenyum. Tapi Nathan hanya membalas dengan senyuman singkat. Ini bukan Nathan yang biasa. Gita pikir ini ada hubungannya dengan apa yang bakal diomongin sama Nathan. Dan emang bener.
Mereka milih untuk jalan ke taman kompleks perumahan Gita aja. Di sana cukup sepi dan nggak terlalu jauh dari rumah Gita. “Kamu sebenernya mau ngomongin apa sih? Kok kamu kayaknya diem banget hari ini?” Gita bertanya setelah mereka duduk dalam diam selama beberapa menit. Nathan masih diam beberapa saat, menghindari kontak mata dengan Gita. Dia pasti ngerasa galau banget. Dia meraih tangan Gita dan memeganginya erat, sebenernya agak terlalu erat buat Gita, tapi dia nggak bilang apa-apa, dia cuma diam saja. Lalu Nathan berkata dengan suara yang ragu-ragu, “Kalo aku harus ngelanjutin kuliah di Amerika, gimana, Git?” mendengar itu Gita cukup kaget, gantian dia yang diam, memikirkan segala kemungkinan yang ada. Tapi lalu dia menggelengkan kepala, tanda nggak percaya. “kamu nggak harus pergi, kan?” Nathan nggak bisa menjawab.
Kenyataannya, ayah Nathan setengah memaksa dia untuk kuliah di sana. Tentu saja dia berusaha menolak. Dia nggak mau pergi terlalu jauh dari temen-temennya di Indonesia, terutama dari Gita. Mereka udah kenal sejak SMP dan pacaran dari kelas 1 SMA. Tentu saja ayah Nathan menganggap Nathan dan Gita cuma ‘main-main’. Cuma pacaran ala anak SMA yang nggak akan berlangsung lama. Tapi kenyataan bilang sebaliknya. Kedengerannya gila, tapi itu yang mereka rasain. Bukan cuma gengsi karena nggak punya pacar, tapi mereka pacaran memang karena mereka sayang.
Gita tahu kalau ayah Nathan bukan orang yang gampang berubah pikiran. Dan dia tau itu artinya Nathan harus pergi. Memikirkan hal ini, lama-lama air mata nggak bisa dia tahan. Tentu saja dia sedih. Kuliah di Amerika? Artinya mereka pasti susah untuk berkomunikasi nantinya. Lalu mereka harus gimana? Air mata Gita berubah jadi tangisan pelan. Nathan nggak bisa ngomong apa-apa juga. Dia juga sedih dan nggak tahu harus gimana. Dia nggak mau jauh dari Gita dan nggak tega ninggalin Gita sendirian. Akhirnya dia cuma memeluk Gita yang menangis sedih.
Gita bener-bener berusaha melampiaskan semua kesedihannya waktu dia nangis. Papa-mama udah, kenapa sekarang giliran Nathan? Lama-lama kepalanya terasa agak pusing. Pasti karena dia kebanyakan nangis. Dia jadi agak malu sendiri. “Sori,” dia berusaha menampilkan senyum, tapi rasanya berat banget, bahkan tersenyum untuk Nathan terasa susah. Nathan membelai kepala Gita, “nggak papa kok.”
Mereka memutuskan untuk pulang ke rumah Gita. Tapi sebelum nyampe di rumah, tiba-tiba Nathan merasa tangan yang tadi menggenggam tangannya erat-erat tiba-tiba lemah. Dan saat dia bener-bener memperhatikan Gita, wajah Gita ternyata pucat. Untung saja dia cukup sigap, karena pada saat itu, Gita tiba-tiba jatuh.
Nathan yang ngeliat Gita tiba-tiba pingsan, langsung panik. Dia menggendong Gita ke mobilnya, lalu segera membawa Gita ke rumah sakit. Sambil menunggu dokter yang sigap mengurus Gita, dia merenung. Mungkin harusnya dia nggak member tahu Gita tentang kuliahnya hari ini. Gita pasti masih terpukul banget, karena belum lama, orang tua Gita memutuskan untuk pisah. Dan keduanya sibuk kerja ke luar kota. Tinggal dia dan adiknya yang masih bayi. Hal ini jelas bikin Gita sedih. Apalagi waktu dia kasi tau Gita dia bakal pindah. Pasti Gita langsung down banget, bahkan sampe pingsan. Tapi untunglah, kata dokter fisik dia nggak papa. Mungkin dia cuma butuh istirahat, dan seseorang di samping dia. Setelah denger omongan dokter, Nathan langsung menekan tombol-tombol HPnya. “Mama?”
Gita merasa kepalanya tiba-tiba sakit. Dia berusaha membuka mata, dan yang dilihat pertama kali adalah langit-langit kamar yang nggak familiar. Lalu dia sadar, dia ada di rumah sakit.
Begitu sadar, Gita langsung mencari Nathan, yang udah nungguin dia dari tadi. Nathan yang ngeliat GIta sadar langsung bangun dari sofa dan duduk di kursi di sebelah ranjang Gita. “Maaf ya,” Nathan menunduk minta maaf dengan muka yang tampak sedih banget. Gita bingung kenapa Nathan minta maaf. Dia nggak ngerasa Nathan berbuat salah. Malahan dia percaya kalo Nathan yang bawa dia ke rumah sakit ini, karena nggak ada orang lain di situ. Gita memegang tangan Nathan, yang membuat Nathan kembali melihat Gita yang tersenyum lembut. “Aku harusnya yang minta maaf. Aku udah ngerepotin kamu.”
“Jadi, dokter bilang apa?” GIta melanjutkan dengan nada yang lebih ceria. Hati Nathan jadi tambah gak karuan. Perasaan bersalah tambah menghantui dia. “Mmmm, mungkin karena kamu kecapekan, banyak pikiran. Mmm, mungkin karena papa-mama kamu lagi ada masalah, terus aku malah bilang kalo aku bakal ninggalin kamu gini. Maafin aku ya.” Nathan menjawab dengan suara yang pelan, tapi tetep terdengar. Dia lalu melihat kembali wajah cewek yang sangat dia sayang itu, ada sesirat kesedihan, tapi dia tetep tersenyum. Nathan juga mencoba tersenyum. “Aku udah kasih tau ke mbak Sum tentang kamu. Jadi sekarang dia bakal jagain adek kamu sampe besok kamu pulang.”. Mbak sum adalah baby sitter adiknya Gita. “Makasih ya,” GIta tersenyum tulus dan lega. Lega Nathan udah menghubungi rumahnya.
Tiba-tiba ada suara ketukan di pintu.. tenyata mama Nathan datang. GIta agak bingung. “Tadi aku juga telepon mama untuk bantu aku urus administrasi di sini.” Nathan menjelaskan. “Mendengar kata administrasi, raut muka Gita berubah lagi.” “Gita, cepat sembuh ya, jangan kebanyakan mikir yang macem-macem. Ini tante sama Nathan pulang dulu ya. Nanti malem tante balik ke sini lagi untuk nemenin kamu. Oh ya, soal biaya opname ini tante yang bayarin ya. Nggak usah dipikirin.” Mama Nathan yang ramah menasehati GIta, lalu mengangguk ke Nathan mengajjaknya pulang untuk istirahat. Ya, mama Nathan juga udah kaya mama Gita sendiri. “Makasih ya, tante. Tapi apa nggak ngerepotin tante? Saya nggak papa kok.” Gita berusaha menolak bantuan. Tapi mama Nathan menggeleng dan bersikeras menemani dan membayari Gita biaya opname ini. Gita nggak bisa menolak. Mama Nathan lalu keluar duluan dari kamar Gita, member kesempatan buat Nathan pamitan sama Gita.
“Tadi aku udah minta mama untuk bilang ayah, untuk mempertimbangkan kuliahku di Amerika. Jadi jangan dipikirin lagi ya…” Nathan menghibur Gita sambil berjalan ke sisi lain ranjang Gita, mencium dahi Gita. “Selamat istirahat ya, sayang…” Nathan lalu keluar.
Dalam sekejap hati Gita merasa damai, akhirnya untuk pertama kali dalam sebulan dia bisa langsung tertidur, tanpa mikirin tentang kesedihan atau kekecewaannya.