Tuesday, July 25, 2017

Biola

Apa kabar biolamu? Sudah lama aku bahkan tidak ingat kamu main biola.
Tapi kemarin malam aku tidak sengaja memimpikan kita yang berbaring di padang rumput, seperti hari-hari musim panas kita biasanya. Dan kamu biasa membawa biolamu.
Mungkin kamu sibuk, sekarang. Dan biolamu terlapisi debu halus, terlalu lama disimpan.
Mungkin kamu memain-mainkannya sesekali. Tapi lagu yang kamu lantunkan sudah berubah, tidak heran aku tidak bisa mendengar alunannya.
Mungkin kamu malah semakin fasih melantunkan berbagai macam lagu. Good for you.

Aku penasaran, apakah kamu masih ingat,
Satu hari saat kita bosan berteduh menunggu hujan dan sudah lemas kelaparan, kita akhirnya mencorat-coret bagian belakang biolamu. Dua huruf kecil kita tulis di pangkal biola dengan pulpen yang serat. Kamu kelihatan agak menyesal setelahnya, walaupun tulisan kita tidak mudah terbaca juga. Tapi kamu lantas tersenyum sendiri, dan memberinya makna. Kamu bilang supaya selalu ada ‘kita’ yang dekat dengan hati/jantung-mu saat kamu memainkan biola. Supaya kamu selalu ingat ke mana lantunan nada itu akan bergerak.

Imajinasi kita aneh juga ya waktu itu?
Haha, betapa carefree-nya kita pada waktu itu. Cheesy juga. Aku terlalu banyak nonton Nicholas Sparks, aku tahu. Tapi kamu juga cukup manis dan (sok) filosofis. Romantis. Waktu itu.

Aku berusaha untuk tidak mengikuti kabarmu dari Facebook – susah karena kita friends dan tentu saja aku tidak mau meng-unfriend. Bisa saja ku unsubscribe. Tapi aku sendiri tidak yakin. Aku cuma mendoakan kamu dari jauh. Aku begitu bahagia untuk setiap kesuksesanmu.
Tapi kadang aku juga berharap kamu memain-mainkan biolamu itu. Aku tidak peduli apakah kamu sudah punya biola baru, atau apakah kamu menutup tulisan itu dengan sticker atau cat. Tapi mainkanlah biola, sekali-sekali.
Supaya kamu mungkin tetap jadi kamu yang aku ingat. Tidak berubah.


Tidak berubah.